STROKE HEMORAGIK

Posted: 20/06/2011 in asuhan keperawatan

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

Stroke merupakan penyakit serebrovaskular yang umum terjadi. Biasanya stroke terjadi pada usia > 50 tahun namun ada pula yang mengalami serangan stroke pada usia muda. Stroke terjadi secara tiba-tiba. Penyebab stroke yang paling umum adalah karena hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Penanganan stroke harus dilakukan dengan segera karena jika tidak segera ditangani maka dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian. Di unit gawat darurat, pasien yang datang dengan serangan stroke penting dilakukan pengkajian dan penatalaksanaan ABC agar dapat segera tertangani.

B.     TUJUAN

1.   Tujuan Umum

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan stroke hemoragik

2.   Tujuan khusus

Mahasiswa mampu:

  1. Menjelaskan teori tentang stroke hemoragik.
  2. Melakukan pengkajian terhadap pasien stroke hemoragik
  3. Melakukan asuhan keperawatan pada pasien stroke hemoragik

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

A.    DEFINISI

Stroke atau cedera serebrovaskular adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak.

Stroke hemoragik diakibatkan oleh adanya hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).

 B.     ETIOLOGI

Stroke hemoragik disebabkan oleh adanya perdarahan intraserebral karena hipertensi. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan perdarahan intraserebral diantaranya adalah:

    1. Hipertensi
    2. Penyakit kardiovaskular seperti:

i.      Penyakit arteri koronaria
ii.      Gagal jantung kongestif
iii.      Hipertrofi ventrikel kiri
iv.      Abnormalitas irama
v.      Penyakit jatung kongestif

    1. Kolesterol tinggi
    2. Obesitas
    3. Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebral
    4. Kontrasepsi oral
    5. Merokok
    6. Penyalahgunaan obat
    7. Konsumsi alkohol.

C.    PATOFISIOLOGI

Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus gangguan pembuluh darah otak. Perdarahan serebral dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau epidural), dibawah duramater, (hemoragi subdural), diruang subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi otak (hemoragi intraserebral).

Hemoragi ekstradural  (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Ini biasanya mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri meningea lain.

Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada dasarnya sama dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Karenanya, periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda dan gejala.

Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena kongenital pada otak. Arteri di dalam otak dapat menjadi tempat aneurisma.

Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral, karena perubahan degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur pembuluh darah. pada orang yang lebih muda dari 40 tahun, hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi arteri-vena, hemangioblastoma dan trauma, juga disebabkan oleh tipe patologi arteri tertentu, adanya tumor otak dan penggunaan medikasi (antikoagulan oral, amfetamin dan berbagai obat aditif).

Perdarahan biasanya arterial dan terjadi terutama sekitar basal ganglia. Biasanya awitan tiba-tiba dengan sakit kepala berat. Bila hemoragi membesar, makin jelas defisit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital. Pasien dengan perdarahan luas dan hemoragi mengalami penurunan kesadaran dan abnormalitas pada tanda vital.

D.    PATHWAYS

Terlampir

E.     MANIFESTASI KLINIK

Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuar, dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori)

  1. Kehilangan motorik : hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi otak yang berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh.
  2. Kehilangan komunikasi : disartria (kesulitan bicara), disfasia atau afasia (bicara defektif atau kehilangan bicara), apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya)
  3. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual, gangguan hubungan visual-spasial, kehilangan sensori
  4. Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis
  5. Disfungsi kandung kemih

F.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa stroke hemoragik antara lain adalah:

1.  Angiografi

Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial, yang sesuai kemudian zat warna disuntikkan.

   2.  CT-Scan

CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma, infark dan perdarahan.

   3.  EEG (Elektro  Encephalogram)

Dapat menunjukkan lokasi perdarahan, gelombang delta lebih lambat di daerah yang mengalami gangguan.

G.    PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN

Penatalaksanaan awal pada pasien stroke yaitu bertujuan untuk mempertahankan jalan napas dan ventilasi adekuat yang merupakan prioritas.

  1. pasien ditempatkan pada posisi lateral atau semifowler atau semi telungkup dengan kepala tempat tidur agak ditinggikan sampai tekanan vena serebral berkurang.
  2. Intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik perlu untuk pasien dengan stroke masif karena henti pernapasan biasanya faktor yang mengancam kehidupan pada situasi ini.
  3. Pasien dipantau untuk adanya komplikasi pulmonal (aspirasi, atelektasis, pneumonia) yang gmungkin berkaitan dengan kehilangan refleks jalan napas, imobilitas atau hipoventilasi.
  4. Terapi diuretik diberikan untuk menurunkan edema serebral.

H.    PENGKAJIAN PRIMER

Airway: pengkajian mengenai kepatenan jalan. Kaji adanya obstruksi pada jalan napas karena dahak, lendir pada hidung, atau yang lain.

Breathing: kaji adanya dispneu, kaji pola pernapasan yang tidak teratur, kedalaman napas, frekuensi pernapasan, ekspansi paru, pengembangan dada.

Circulation: meliputi pengkajian volume darah dan kardiac output serta perdarahan. Pengkajian ini meliputi tingkat kesadaran, warna kulit, nadi, dan adanya perdarahan.

Disability: yang dinilai adalah tingkat kesadran serta ukutan dan reaksi pupil.

Exposure/ kontrol lingkungan: penderita harus dibuka seluruh pakaiannya.

I.       PENGKAJIAN SEKUNDER

Pengkajian sekunder adalah pemeriksaan kepala sampai kaki (head to toe) termasuk reevaluasi pemeriksaan TTV.

1.  Anamnesis

Setiap pemeriksaan yang lengkap memerlukan anamnesis mengenai riwayat perlukaan. Riwayat “AMPLE” (alergi, medikasi, past illness, last meal, event/environment) perlu diingat.

2.  Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dimulai dengan evaluasi kepala akan adanya luka, kontusio atau fraktuf. Pemeriksaan maksilofasialis, vertebra sevikalis, thoraks, abdomen, perineum, muskuloskeletal dan pemeriksaan neurologis juga harus dilakukan dalam secondary survey.

3.  Reevaluasi

Monitoring tanda vital dan haluaran urin penting dilakukan.

4.  Tambahan pada secondary survev

Selama secondary survey, mungkin akan dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik seperti foto tambahan dari tulang belakang serta ekstremitas, CT-Scan kepala, dada, abdomen dan prosedur diagnostik lain.

J.      DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

    1. Inefektif perfusi jaringan serebral b.d. hemoragi serebral
    2. Inefektif bersihan jalan napas b.d. depresi pusat pernapasan
    3. Inefektif pola napas b.d. disfungsi neuromuskular.
    4. Kerusakan mobilitas fisik b.d. parestesis, paralisis
    5. Risiko cedera b.d. paralisis, parestesis.
Iklan

Sarcoptes scabiei

Posted: 17/06/2011 in Parasitologi

Sarcoptes scabiei adalah parasit penyebab penyakit scabies. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai penyakit “kudis” atau “gudig”. Parasit ini biasanya membuat terowongan di bawah kulit manusia sehingga orang yang terinfeksi parasit ini akan merasa gatal-gatal. Saat digaruk, parasit akan merasa terganggu dan mencoba berpindah tempat dengan membuat terowongan baru

Kudis atau Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabiei yang dicirikan dengan adanya keropeng, kebotakan, dan kegatalan pada kulit. Tungau ini hidup dengan menjadikan manusia sebagai inangnya dan bersifat menular. Penularan melalui kontak dekat. Kudis dapat menyerang siapapun, tidak tergantung usia dan jenis kelamin Tungau kemudian meletakkan telur dalam kulit manusia yang akhirnya menetas dan menjadi tungau dewasa.

Sarcoptes scabiei adalah tungau dengan ciri-ciri berbentuk hampir bulat dengan 8 kaki pendek, pipih, berukuran (300–600 μ) x (250-400 μ) pada betina, dan (200- 240 μ) x (150-200 μ) pada jantan, biasanya hidup di lapisan epidermis. Permukaan dorsal dari tungau ini ditutupi oleh lipatan dan lekukan terutama bentuk garis melintang sehingga menghasilkan sejumlah skala segitiga kecil. Selain itu, pada betina terdapat bulu cambuk pada pasangan kaki ke-3 dan ke-4 sedangkan pada jantan, bulu cambuk hanya terdapat pada pasangan kaki ke-3. Kudis adalah penyakit kulit yang bersifat menular. Penularan melalui kontak dekat. Kudis dapat menyerang siapapun, tidak tergantung usia dan jenis kelamin.

Penyebab, Gejala, Diagnosa dan Pengobatan Penyakit Kudis, Penyakit kudis ini salah satu penyakit kulit yang memalukan karena penyakit kudis merupakan  penyakit yang semestinya tidak perlu anda derita jika anda mengetahui tentang kesehatan pribadi dan lingkungan. Penyakit Kudis adalah penyakit yang ditandai dengan pendarahan gusi dan sendi  serta  sering kelelahan, lekas marah dan kehilangan nafsu makan.  Apakah karena kekurangan vitamin C atau asam askorbat, zat yang memungkinkan tubuh untuk memproduksi kolagen

Proses Penyakit

Adapun proses penyakit kudis yaitu sebagai berikut:

  • Infeksi dari penyakit ini diawali dengan tungau betina atau nimfa stadium kedua yang secara aktif membuat terowongan di epidermis atau lapisan tanduk. Pada terowongan tersebut diletakkan 2-3 butir telur setiap hari.
  • Telur menetas dalam 2-4 hari yang kemudian menjadi larva yang berkaki 6.
  • Dalam 1-2 hari larva berubah menjadi nimfa stadium pertama kemudian berkembang menjadi nimfa stadium kedua, yang berkaki 8. * Nymfa ini menjadi tungau betina muda, yang siap kawin dengan tungau jantan
  • Tungau berkembang menjadi tungau dewasa dalam 2-4 hari.

Untuk menyelesaikan daur hidup dari telur sampai bertelur lagi diperlukan waktu 10-14 hari. Waktu yang diperlukan telur menjadi tungau dewasa kurang lebih 17 hari. Tungau betina yang tinggal di sebuah kantong ujung terowongan, setelah 4-5 hari setelah kopulasi, akan bertelur lagi sampai berumur lebih kurang 3-4 minggu

Gejala Penyakit

Gejala yang khas pada kudis adalah liang pada permukaan kulit, gatal, dan kemerahan dan biasanya ada infeksi sekunder, misalnya akibat bakteri. Pada bayi, gejala yang khas yaitu adanya bisul pada telapak kaki dan telapak tangan. Ruam yang diakibatkan kudis menyebabkan gatal-gatal terutama pada malam hari. Seringkali muncul benjolan-benjolan kecil kemerahan. Gejala bisa dilihat pada sela jari, pergelangan tangan, sekitar dada, pantat, atau perut.

Diagnosa

Untuk mendiagnosa kudis ini dilakukan melalui kerokan kulit pada keropeng sampai keluar darah dengan menggunakan skalpel. Hasil kerokan kulit itu diberi beberapa tetes KOH 10% agar tungau terpisah dari reruntuhan jaringan kulit yang terbawa tersebut. Setelah itu campuran tersebut diperiksa di bawah mikroskop

Pencegahan

Tidak ada vaksin untuk kudis sehingga pencegahan harus dilakukan melalui menghindari infeksi. Seluruh pihak yang berada dekat dengan penderita perlu diobati pada waktu bersamaan, walaupun belum ada gejala. Pakaian, handuk, seprai dan barang-barang yang bersentuhan dengan kulit sebaiknya dicuci dan disetrika untuk mencegah penularan.

Pengobatan

Pengobatan kudis biasanya dengan memberikan salep antibiotik. Pencegahan terbaik terhadap penyakit ini adalah dengan menjaga kesehatan pribadi dan lingkungan tempat tinggal.

Scabies

BAB I

PENDAHULUAN

Telah disadari bahwa pertolongan pertama/penanganan kegawatdaruratan obstetric neonatal merupakan komponen penting dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kebidanan di setiap tingkat pelayanana. Bila hal tersebut dapat diwujudkan, maka angka kematian ibu dapat diturunkan. Berdasarkan itu, standar pelayanan kebidanan ini mencakup standar untuk penanganan keadaan tersebut, disamping untuk pelayanan kebidanan dasar.

Dengan demikian ruang lingkup standar pelayanan kebidanan meliputu 24 standar yang dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Standar Pelayanan Umum (2 Standar)
  2. Standar Pelayanan Antenatal (6 Standar)
  3. Standar Pertolongan persalinan (4 Standar)
  4. Standar Pelayanan Nifas (3 Standar)
  5. Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-Neonatal (9 Standar)

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

STANDAR 10.PERSALINAN KALA II YANG AMAN

Tujuan : memastikan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu dan bayi.

Pernyataan standar : bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman, ddengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu, ibu diizinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan.

 Hasil :

–          Persalinan yang bersih dan aman

–          Meningkatnya kepercayaan terhadap bidan.

–          Meningkatnya jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan.

–          Menurunnya komplikasi seperti perdarahan post partum,asfiksia neonatorum, trauma kelahiran.

–          Menurunnya angka sepsis puerperalis.

Prasyarat :

  1. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mules/ketuban pecah.
  2. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam menolong persalinan secara bersih dan aman.
  3. Tersedianya alat untuk pertolongan persalinan termasuk sarung tangan dalam keadaan DTT atau steril.
  4. Tersedianya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang berih dan aman seperti air bersih, sabun dan handuk yang bersih, 2 handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi,yang lain untuk dipakai kemudian),  pembalut wanita dan tempat untuk plasenta. Bidan sedapat mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih.
  5. Tersedia ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk persalinan.
  6. Menggunakan KMS ibu hamil/buku KIA, kartu ibu, partograf.
  7. System rujukan untuk perawatan kegawat daruratan obstetric yang efektif.

Proses :

  • Bidan harus :
  1. Menghargai ibu selama proses persalinan.
  2. Mengijinkan ibu memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.
  3. Memastikan tersedianya ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk persalinan, 2 handuk/kain hangat yang bersih(satu untuk mengeringkan bayi,yang lain untuk dipakai kemudian),tempat untuk plasenta. (jika ibu belum mandi,bersihkan daerah perineum dengan sabun dan air mengalir).
  4. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir, kemudian keringkan hingga betul-betul kering denga handuk bersih. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih).
  5. Bantu ibu untuk mengambil posisi yang paling nyaman baginya.
  6. Pada kala II anjurkan ibu untuk meneran hanya jika merasa ingin atau saat kepala bayi sudah kelihatan.(riset menunjukkan bahwa mwnahan nafas sambil meneran adalah berbahaya,dan meneran sebelum kepala bayi tampak tidaklah perlu.bahkan meneran sebelum pembukaan serviks lengkap adalah berbahaya). Jika kepala belum terlihat,padahal ibu sudah sangat ingin meneran, periksa pembukaan serviks denga periksa dalam. Jika pembukaan belum lengkap,keinginan meneran bias dikurangi dengan memiringkan ibu ke sisi sebelah kiri.
  7. Pada kala II, dengarkan DJJ setiap 5 menit setelah his berakhir, irama dan frekuensinya ha rus segera kembali normal. Jika tidak, cari pertolongan medis. (jika kepala sudah meregangkan perineum, dan terjadi kelambatan kemajuan persalinan atau DJJ menurun sampai 11100x/menit atau kurang atau meningkat menjadi  180x/menit atau lebih, maka percepat persalinan dengan episiotomy)
  8. Hindari peregangan vagina secara manual dengan gerakan menyapu atau menariknya kearah luar. (riset menunjukkan hal itu berbahaya).
  9. Pakai sarung tangan DTT, saat kepala bayi kelihatan.
  10. Jika ada kotoran keluar dari rectum, bersihkan dengan kain bersih.
  11. Bantu kepala bayi lahir perlahan, sebaiknya antara his. (riset menunjukkan bahwa robekan tingkat II dapat sembuh sama baiknnya dengan luka episiotomy ; sehingga tidak perlu melakukan episiotomy, kecuali terjadi gawat janin, komplikasi persalinan pervaginam,(sungsang,distosia bahu,forcep, vakum) atau ada hambatan pada perineum (misalnya disebabkan jaringan parut pada perineum).
  12. Begitu kapala bayi lahir, usap mulut dan hidung bayi dengan kasa bersih dan biarkan kepala bayi memutar (hal ini seharusnya terjadi spontan,sehingga bayi tak perlu di bantu.jika bahu tidak memutar ikuti standar 18.
  13. Begitu bahu sudah pada posisi anterior-pesterior yang benar, bantulah persalinan dengan cara yang tepat.
  14. Segera setelah periksa keadaan bayi,letakkan di perut ibu, dan segera keringkan bayi dengan hsnduk bersih yang hangat.
  15. Minta ibu memegang bayinya. Tali pusat di klem di 2 tempat, lalu potong diantara 2 klem dengan gunting tajam steril/DTT.
  16. Letakkan bayi dalam pelican ibu dan mulai menyusui. (riset menunjukkan hal ini penting untuk keberhasilan awal dalam memberikan ASI dan membantu pelepasan plasenta. Kontak kulit dengan kulit adalah cara yang baik untuk menjaga kehangatan bayi,lalu ibu dan bayi harus di selimuti dengan baik termasuk kepala. Jika bayi tidak didekap oleh ibunya selimuti bayi dengan kain yang bersih dan hangat. Tutupi kepala bayi agar tidak kehilangan panas).
  17. Menghisap lender dari jalan nafas bayi tidak selalu diperlukan. Jika bayi tadak menangis spontan, gunakan penghisap Delee yang sudah di DTT atau aspirator lender yang baru dan bersih untuk membersihkan jalan nafas (lihat standar 24).
  18. Untuk melahirkan plasenta,mulailah langkah-langkah untuk penatalaksanaan aktif persalina kala III yang tercantum di standar 11.
  19. Pada saat plasenta sudah dilahirkan lengkap dan utuh dengan mengikuti langkah-langkah penatalaksanaan aktif persalinan kala III . lakukan masasse uterus agar terjadi kontraksi dan pengeluaran gumpalan darah.
  20. Segera sesudah plasenta di keluarkan, periksa apakah terjadi laserasi pada vagina atau perineum. Dengan menggunakan teknik aseptic berikan anastesi local (1%lidokain).
  21. Perkiraan jumlah kehilangan darah secara akurat (ingat perdarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit).
  22. Bersihkan perineum dangan air matang dan tutupi dengan kain bersih/telah dijemur.
  23. Berikan plasenta kepada suami/keluarga ibu.
  24. Pastikan agar ibu dan bayi merasa nyaman. Berikan bayi kepada ibu untuk diberi ASI.
  25. Untuk perawatan bayi baru lahir lihat standar 13.
  26. Catat semua temuan dengan seksama.

CATATAN….!!!!!

  1. Membantu kelahiran bahu dan punggung masih mungkin dilakukan,meskipun ibu dalam posisi tradisional saat persalinan. (tidak berbaring terlentang atau dalam posisi litotomi).
  2. Proses persalinan yang normal, apapun posisi ibu, Ingat 3 bersih : tangan bersih,tempat pertolongan  persalinan bersih, pengikatan dan pemotongan tali pusat dilakukan secara bersih.

STANDAR 11.PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA III

Tujuan : membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengklap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan, memperpendek waktu persalinan kala III, mencegah terjadinya atonia uteri dan retensio plasenta.

Pernyataan standar : secara rutin bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan Kala III.

Hasil :

–          Menurunkan terjadinya perdarahan yang terjadi pala persalinan kala III.

–          Menurunkan terjadinya atonia uteri.

–          Menurunkan terjadinya retensio plasenta.

–          Memperpendek waktu persalinanan kala III.

–          Menurunkan terjadinya perdarahan post partum akibat salah penanganan kala III.

Prasyarat :

  1. Bidan sudah terlatih dan terampil dalam melahirkan plasenta secara lengkap dengan melakukan penatalakanaan aktif persalinan kala III secara benar.
  2. Tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk melahirkan plasenta,termasuk air bersih, larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi, sabun dan handuk yang bersih untuk cuci tangan, juga tempat untuk plasenta. Bidan seharusnya menggunakan sarung tangan DTT/steril.
  3. Tersedia obat-obat oksitosika dan metode yang efektif untuk penyimpanan dan pengirimannya yang dijalankan dengan baik.
  4. System rujukan untuk perawatan kegawatdaruratan obstetric yang efektif.

Proses ;

  • Bidan harus :
  1. Berikan penjelasanpada ibu, sebelum melahirkan, tentang prosedur penatalaksanaan aktif persalinan kala III.
  2. Masukkan oksitosi 10 unit IM kedalam alat suntik steril menjelang persalian.
  3. Setelah bayi lahir (lihat standar 10),tali pusat di klem di 2 tempat,lalu potong diantara 2 klem dengan gunting tajam steril/DTT.
  4. Memeriksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan ganda, jika tidak ada, beri oksitosin 10 unit secar IM (dalam waktu 2 menit setelah persalinan).
  5. Tunggu uterus berkontraksi, lakukan PTT sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah punggung ibu dan kearah atas (dorso kranial). Ulangi langkah ini pada setiap ada his.
  6. Bila plasenta belum lepas setelah melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala III dalam waktu 15 menit :
    • Ulangi 10 unit oksitosin IM
    • Periksa kandung kemih, lakukan kateterisasi bila penuh.
    • Beritahu keluarga untuk persiapan merujuk.
    • Teruskanmelakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala III selama 15 menit lagi.
  7. Bila sudah terasa ada pelepasan plasenta minta ibu untuk meneran sedikit pada saat tali pusat ditegangkan kearah bawah kemudian keatas sesuai denga kurve jalan lahir sehingga plasaenta tampak pada vulva (jangan mendorong uterus karena dapat mengakibatkan inversion uteri).
  8. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu, pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah jarum jam untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban
  9. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan, lakuka masase uterus supaya berkontraksi.
  10. Sambil melakukan masase fundus uteri, periksa plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan plasenta utuh dan lengkap.
  11. Bila plasenta dilahirkan tidak utuh dan lengkap, ikuti standar 20. Jika terjadi atonia uteri atau perdarahan pasca persalinan lihat standar 21.
  12. Perkirakan jumlah kehilangan darah secara akurat.
  13. Bersihkan vulva dan perineum dengan air matang dan tutup dengan pembalut wanita/kain bersih/telah dijemur.
  14. Periksa tanda-tanda vital. Catat semua temuan denga seksama.
  15. Berikan plasenta pada suamai atau keluarga ibu.
  16. Catat semua temuan dan perawatan denga seksama.

CATATAN…!!!

  1. Oksitosi menurun efektifitasnya jika tidak disimpan pada suhu 2-8°C. karena itu,simpanlah oksitosin di lemari es dan hindarkan dari cahaya. Bila dikeluarkan dari lemari es, oksitosi dapat bertahan paling lama 1 bulan pada suhu 30°C atau 2 minggu pada suhu 40°C.
  2. Dilarang menggunakan ergometrin/metergin sebelum bayi lahir.
  3. Tanda-tanda pelepasan plasenta adalah: fundus berkontraksi dengan baik,keluarnya darah,fundus naik dan tali pusat memanjang.
  4. Dilarang mendorong fudus.
  5. Dilarang meanaroik tali pusat secara berlebihan. Lakukan peneganga tali pusat denga hati-hati.
  6. Hentikan penegangan tali pusat jika tersa nyeri  atau tali pusat tertahan.
  7. Jika tidak yakin apakah plasenta lahir lengkap. Ikutio standar 20 untuk melakukan manual plasenta. Jika bidan belum terampil ibu segera dirujuk.

STANDAR 12  : PENANGANAN KALA DUA DENGAN GAWAT JANIN  MELALUI EPISIOTOMI

Tujuan : Mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomi jika ada tanda –tanda gawat janin pada saat kepala janin meregangkan perineum.

Pernyataan standar : Bidan mengenali  secara tepat tanda- tanda gawat janin pada kala dua, dan segera melakukan episiotomi  dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.

Hasil :

–   Penurunan kejadian asfiksia neonatorum berat.

–   Penurunan kejadian lahir mati pada kala dua.

Prasyarat:

  1. Bidan sudah terlatih dalam melaksanakan episiotomo dan menjahit perineum secara benar.
  2. Tersedia sarung tangan / alat / perlengkapan  untuk melakukan episiotomi, termasuk gunting tajam yang steril/ DTT, dan alat/ bahan yang steril /DTT untuk penjahitan perineum, ( anastesi local misalnya dengan 10 ml lidokain 1% dan alat suntik/ jarum hipodermik steril).
  3. Menggunakan kartu ibu, partograf dan buku KIA.

Proses

Jika ada tanda gawat janin berat dan kepala sudah telihat pada vulva , episiotomi mungkin salah satu dari  beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan untuk menyelamatkan janin.

  • Bidan harus :
  1. Mempersiapkan alat-alat steril/ DTT untuk tindakan ini.
  2. Memberitahu ibu tentang perlunya episiotomi dilakukan dan yang akan dirasakannya .
  3. Kenakan sarung tangan steril/ DTT.
  4. Jika kepala janin meregangkan perineum , anastesi  lokal diberikan ( pada saat his) Masukkan dua jari tangan kiri ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi, dan dengan tangan kanan tusukan jarum sepanjang garis yang akan di gunting ( sebaiknya dilakukan insisi medio- lateral ). Sebelum menyuntikannnya , tarik jarum sedikit ( untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah). Masukkan anastesi perlahan – lahan , sambil menarik alat suntik perlahan sehinnga garis yang akan di gunting teranastesi.
  5. Begitu bayi lahir , keringkan dan stimulasi bayi. Mulai melakukan  resusitasi bayi baru lahir  jika diperlukan ( lihat standar 24).
  6. Lahirkan plasenta dan selaput ketuban secara lengkap mengikuti langkah- langkah penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga, sesuai dengan standar 11. Periksa perineum untuk menentukan  tingkat luka  episiotomyi, perluasan episiotomi  dan / laserasi.
  7. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dikeluarkan , dengan menggunakan teknik aseptic, berikan anastesi lokal ( lidokain 1% ), lalu jahit perlukaan dan/ laserasi dengan peralatan steril/ DTT. ( lihat standar 12).
  8. Lakukan jahitan sekitar 1 cm di atas ujung luka episiotomy atau laserasi di dalam vagina . lakukan penjahitan secara berlapis, mulai dari vagina kea rah perineum, lalu teruskan dengan perineum.
  9. Sesudah penjahitan , lakukan masase uterus untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik. Pastikan bahwa tidak ada kasa yang tertinggal di vagina dan masukkan jari dengan hati- hati ke rectum untuk memastikan bahwa penjahitan tidak menembus dinding rectum . bila hal tersebut terjadi , lepaskan jahitan dan lakukan jahitan ulang. Lepaskan  sarung tangan yang sudah terkontaminasi .
  10. Kenakan sarung tangan yang bersih , bersihka perineum dengan air matang , buatlah ibu merasa bersih dan nyaman. Periksa apakah perdarahan dari daerah insisi sudah berhenti. Bila perdarahan masih ada, periksa sumbernya. Bila berasal dari luka episiotomy, temukan  titik perdarahan dan segera ikat, jika bukan ikuti  satandar 21.
  11. Pastikan agar ibu di beritahu agar menjaga perineum tetap bersih  dan kering serta menggunakan pembalut wanita/ kain bersih yang sudah di jemur. Catat semua perawatan dan temuan  dengan seksama. Ikuti standar 14 untuk  perawatan postpartum.

CATATAN …!!!

  1. Gawat janin pada kala satu selalu memerlukan rujukan segera .
  2. Episiotomy hanya bermanfaat pada kala dua, ketika perineum sudah meregang . dan kepala  sudah tampak pada vulva . jika kepala masih tinggi ibu segera  di rujuk, kecuali bidan terlatih dan terampil dan melakukan ekstraksi vakum.
  3. Melakukan dorongan pada fundus adalah berbahaya dan tidak akan mempercepat  proses persalina .
  4. Tanda- tanda gawat janin adalah : DJJ di bawah 100 kali/ menit atau 180 kali/ menit atau DJJ tidak segera kembali  normal setelah his.

 

BAB III

PENUTUP

  1. a.    Kesimpulan

 

STANDAR 10.PERSALINAN KALA II YANG AMAN

Bidan melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman, ddengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu, ibu diizinkan memilih orang yang akan mendampinginya selama proses persalinan.

STANDAR 11.PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA III

Membantu secara aktif pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengklap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca persalinan, memperpendek waktu persalinan kala III, mencegah terjadinya atonia uteri dan retensio plasenta.

STANDAR 12  : PENANGANAN KALA DUA DENGAN GAWAT JANIN  MELALUI EPISIOTOMI

Bidan mengenali  secara tepat tanda- tanda gawat janin pada kala dua, dan segera melakukan episiotomi  dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.

BAB I

PENDAHULUAN

obat-obat antimikroba efektif dalam pengobatan infeksi karena toksisitas selektifnya (fungsi reseptor spesifik yang dibutuhkan untuk melekatnya obat-obatan, atau bisa karena hambatan biokimia yang bisa terjadi bagi oragnisme namun tidak bagi inang) yang memliki kemampuan untuk membunuh mikroorganisme yang menginvasi penjamu tanpa merusak sel. Pada kebanyakan kasus, toksisitas lebih relatif daripada absolut, yang memerlukan kontrol konsentrasi obat secara hati-hati untuk menyerang mikroorganisme sehingga dapat ditolerir oleh tubuh (Jawelz, 1995).

Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensis infeksi, msalnya pada pembedahan besar. Secara provilaktis juga diberikan pada pasien dengan sendi dan klep jantung buatan, juga sebelum cabut gigi. Jumlah antibiotika yang beredar dipasaran sekarang ini semakin banyak macamnya dan melonjak tinggi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Antibiotika dalam penggunaannya membutuhkan waktu yang lama baik dalam penyimpanan dan peredarannya. Hal ini dapat menyebabkan potensi dari antibiotika menurun dan bahkan bisa hilang (Jawelz, 1995).

Masalah farmako-epidemi merupakan masalah terbesar dalam dunia medis saat ini adalah resistensi mikroba terhadap antibiotik, yang dipicu oleh potensi antibiotik yang rendah. Potensi antibiotik yang rendah hanya mampu menghambat atau mematikam mikroba dalam jumlah terbatas, bahkan dapat menstimulir mikroba untuk membantuk mekanisme kekebalan terhadap antibiotik. Pada tahun-tahun terakhir ini bakteri resisten telah memberi kenaikan terhadap letusan infeksi yang serius dengan banyak kematian. Hal ini telah membawa para ahli kepada suatu kebutuhan program Survei lance Nasional dan Internasional. Program ini nantinya digunakan untuk memonitor resistensi antibiotika terhadap Enterobacteriaceae dengan cara tes sensitivitas dengan menggunakan suatu metode yang dapat dipercaya yang akan menghasilkan data yang dapat dibandingkan (Dirjen POM, 2000).

1.1. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah agar praktikan mampu menentukan kadar antibiotik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Antibiotik merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotik dewasa ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh, akan tetapi dalam praktek sehari-hari antibiotik sintetik yang tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya sulfonamida dan kuinolon) juga sering digolongkan sebagai antibiotik (Ganiswarna, 1995).

Kegiatan antibiotika untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Penemuan ini baru dikembangkan dan dipergunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr.Florey (Oxford) yang kemudian banyak zat lain dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik di seluruh dunia, akan tetapi berhubung dengan sifat toksisnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat (Djide, 2003).

Masa perkembangan kemoterapi antimikroba sekarang dimulai pada tahun 1935, dengan penemuan sulfonamida. Pada tahun 1940, diperlihatkan bahwa penisilin, yang ditemukan pada tahun 1929, dapat dibuat menjadi zat kemoterapi yang efektif. Selama 25 tahun berikutnya, penelitian kemoterapi sebagain besar berpusat sekitar zat antimikroba yang berasal dari mikroorganisme, yang dinamakan antibiotika. Kemoterapeutika dapat melakukan aktivitasnya lewat beberapa mekanisme, terutama dengan penghambatan sintesa materi penting dari bakteri, misalnya dari (Tjay, 2003):

1. Dinding sel: sintesanya terganggu sehingga dinding menjadi kurang sempurna dan tidak tahan terhadap tekanan osmotis dari plasma dengan akibat pecah. Contohnya : kelompok penisilin dan sefalosporin.

2. Membran sel: molekul lipoprotein dari mambran plasma (di dalam dinding sel) dikacaukan sintesanya, hingga menjadi lebih permeable. Hasilnya, zat-zat penting dari isi sel dapat merembas keluar. Contohnya : polipeptida dan polyen (nistatin, amfoterisin) dan imidazol (mikonazol, ketokonazol, dan lain-lain).

3. Protein sel: sintesanya terganggu, misalnya kloramfenikol, tetrasiklin, aminoglikosida, dan makrolida.

4. Asam-asam inti (DNA, RNA): rifampisin (RNA), asam nalidiksat dan kinolon, IDU, dan asiklovir (DNA).

5. Antagonisme saingan. Obat menyaingi zat-zat yang penting metabolisme kuman hingga pertukaran zatnya terhenti, antara lain sulfonamida, trimetoprim, PAS, dan INH.

Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas selektif. Istilah ini berarti bahwa suatu obat berbahaya bagi parasit tetapi tidak membahayakan inang. Umumnya toksisitas selektif lebih bersifat relatif dan bukan absolut, ini berarti bahwa suatu obat yang pada konsentrasi tertentu dapat ditoleransi oleh inang namun dapat merusak parasit (Tjay, 2003).

Aktivitas mikroba dapat dikendalikan dengan mengatur faktor-faktor lingkungan yang meliputi faktor biotik (makhluk hidup dan mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose, dan sintropisme) dan abiotik (temperatur, kelembaban, pH, radiasi, penghancuran secara mekanik) (Dwidjoseputro, 1994). Antibiotika yang ideal sebagai obat harus memenuhi syarat-syarat berikut (Jawelz, 1995):

1. Mempunyai kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang luas (broad spectrum antibiotic)

2. Tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme pathogen

3. Tidak menimbulkan pengaruh samping (side effect) yang buruk pada host, seperti reaksi alergi, kerusakan syaraf, iritasi lambung, dan sebagainya

4. Tidak mengganggu keseimbangan flora yang normal dari host seperti flora usus atau flora kulit.

Metode dilusi adalah metode yang menggunakan antimikrobia dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat yang kemudian media diinokulasi bakteri uji dan diinkubasi. Tahap akhir dilarutkan antimikrobia dengan kadar yang menghambat atau mematikan. Metode difusi dilakukan dengan cara, cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat diletakkkan pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Diameter zona hambatan sekitar cakram yang terbentuk setelah diinkubasi dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji (Jawelz, 2005).

Untuk memeriksa baik tidaknya bahan-bahan yang digunakan untuk desinfeksi dalam industri, rumah sakit maupun dalam laboratorium, maka perlu diadakan tes. Salah satunya yaitu Minimum Inhibitory Concentration atau MIC test. MIC adalah konsentrasi terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Kadar minimum yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan suatu mikroorganisme juga disebut Kadar Hambatan Minimum (KHM). Anti mikroba dapat meningkatkan aktivitasnya dari bakteriostatik menjadi bakteriosid, apabila kadar anti mikrobanya ditingkatkan lebih besar dari MIC tersebut. Aktivitas anti bakteri ditentukan oleh spektrum kerja, cara kerja, MIC, serta potensi pada MIC. Suatu bakteri dikatakan mempunyai aktivitas yang tinggi bila MIC terjadi pada kadar rendah tetapi mempunyai daya bunuh atau daya hambat yang besar (Wattimena, 1982). Suatu anti mikroba menunjukkan toksisitas yang selektif, dimana obatnya lebih toksis terhadap mikroorganisme atau karena obat pada reaksi–reaksi biokimia penting dalam sel parasit lebih unggul daripada pengaruhnya terhadap sel hospes serta karena struktur sel mikrorganisme berbeda dengan strukur sel manusia atau hospe (inang) (Lakare, 1997).

Proteus mirabilis

Posted: 11/06/2011 in Bakteriologi

Aspek Biologi

  • Morfologi

Setelah tumbuh selama 24-48 jam pada media padat, kebanyakan sel berbentuk seperti tongkat, panjang 1-3 mm dan lebar 0,4-0,6 mm, walaupun pendek dan gemuk bentuknya kokus biasa. Dalam kultur muda yang mengerumun di media padat, kebanyakan sel panjang, bengkok, dan seperti filamen, mencapai 10, 20, bahkan sampai panjang 80 mm. dalam kultur dewasa, organisme ini tidak memiliki pengaturan karakteristik : mereka mungkin terdistribusi tunggal, berpasangan atau rantai pendek. Akan tetapi, dalam kultur muda yang mengerumun, sel-sel filamen membentang dan diatur konsentris seperti isobar dalam diagram angin puyuh. Kecuali untuk varian tidak berflagella dan flagella yang melumpuhkan, semua jenis dalam kultur muda aktif bergerak dengan flagella peritrik. Flagella tersebut terdapat dalam banyak bentuk dibanding kebanyakan enterobakter lain, normal dan bentuk bergelombang kadang-kadang ditemukan bersama dalam organisme sama dan bahkan dalam flagellum yang sama. Bentuk flagellum juga dipengaruhi pH media.

  • Klasifikasi

Kingdom   :  Bacteria

Phylum      :  Proteobacteria

Class            :  Gamma Proteobacteria

Order          :  Enterobacteriales

Family        :  Enterobacteriaceae

Genus          :  Proteus

Species       :   Proteus mirabilis

  • Siklus hidup

Sebenarnya Proteus mirabilis merupakan flora normal dari saluran cerna manusia. Bakteri ini dapat juga ditemukan bebas di air atau tanah. Jika bakteri ini memasuki saluran kencing, luka terbuka, atau paru-paru akan menjadi bersifat patogen. Perempuan muda lebih beresiko terkena daripada laki-laki muda, akan tetapi pria dewasa lebih beresiko terkena daripada wanita dewasa karena berhubungan pula dengan penyakit prostat. Proteus sering juga terdapat dalam daging busuk dan sampah serta feses manusia dan hewan. Juga bisa ditemukan di tanah kebun atau pada tanaman.

  • Penyakit yang ditimbulkan

Bakteri ini mampu memproduksi enzim urease dalam jumlah besar. Enzim urease yang menghidrolisis urea menjadi ammonia (NH3) menyebabkan urin bertambah basa. Jika tidak ditanggulangi, pertambahan kebasaan dapat memicu pembentukan kristal sitruvit (magnesium amonium fosfat), kalsium karbonat, dan atau apatit. Bakteri ini dapat ditemukan pada batu/kristal tersebut, bersembunyi dalam kristal dan dapat kembali menginfeksi setelah pengobatan dengan antibiotik. Semakin banyak batu/kristal terbentuk, pertumbuhan makin cepat dan dapat menyebabkan gagal ginjal. Proteus mirabilis memproduksi endotoksin yang memudahkan induksi ke sistem respon inflamasi dan membentuk hemolisin. Bakteri ini dapat pula menyebabkan pneumonia dan juga prostatitis pada pria. P. mirabilis causes 90% of all ‘Proteus’ infections in humans. mirabilis menyebabkan 90% dari ‘semua’ Proteus infeksi pada manusia.

1.  Gejala

 Gejala uretritis tidak terlalu nampak, termasuk frekuensi kencing dan adanya sel darah putih pada urin. Sistitis (infeksi berat) dapat dengan mudah diketahui dan termasuk sakit punggung, nampak terkonsentrasi, urgensi, hematuria (adanya darah merah pada urin), sakit akibat pembengkakan bagian paha atas. Pneumonia akibat infeksi bakteri ini memiliki gejala demam, sakit pada dada, flu, sesak napas. Prostatitis dapat diakibatkan oleh infeksi bakteri ini, gejalanya demam, pembengkakan prostat

2.  Penularan

Infeksi saluran kencing yang disebabkan oleh P. mirabilis juga seringkali terjadi pada pria dan wanita yang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman.

3.  Penyebaran

Kebanyakan kasus infeksi Proteus mirabilis terjadi pada pasien di rumah sakit. Infeksi ini biasanya terjadi karena peralatan media yang tidak steril, seperti catheters, nebulizers (untuk inhalasi), dan sarung tangan untuk pemeriksaan luka.

  • Obat yang digunakan

Infeksi Proteus mirabilis dapat diobati dengan sebagian besar jenis penisilin atau sefalosporin kecuali untuk kasus tertentu. Tidak cocok bila digunakan nitrofurantoin atau tetrasiklin karena dapat meningkatkan resistensi terhadap ampisilin, trimetoprim, dan siprofloksin. Jika terbentuk batu/kristal, dokter bedah harus menghilangkan blokade ini dahulu.


Karya tulis ilmiah dirancang dengan tujuan dan maksud tertentu. Oleh karena itu, maka kita melihat beberapa karya tulis ilmiah dalam beberapa bentuk, seperti makalah, artikel, proposal, skripsi, tesis atau disertasi. Masing-masing bentuk karya tulis tersebut memiliki format yang berbeda sesuai dengan tujuan dan maksud penulisannya.

Karya tulis ilmiah dapat dilihat dari bentuk penyajian (bahasa) dan kajiannya. Dari segi bentuk penyajiannya, sebagian karya tulis ilmiah memang disajikan ilmiah teknis yang umumnya dipahami oleh kalangan tertentu. Karya tulis seperti ini disebut karya tulis ilmiah akademis atau pendidikan. Biasanya karya tulis seperti ini dimaksudkan untuk kepentingan akademis. Sebagian lagi ditulis untuk kepentingan publikasi yang dapat dipahami oleh banyak orang. Karya tulis ini tidak terlalu banyak menggunakan istilah teknis dan menggunakan bahasa yang familiar dan populer. Karya tulis ilmiah semacam ini disebut karya tulils ilmiah populer. Sedangkan dari segi kajiannya, karya tulis ilmiah dapat diangkat dari penelitian ilmiah yang dilakukan.

Tetapi sebagian lagi tidak berasal dari penelitian ilmiah, tetapi hanya gagasan konseptual atau telaah kritis. Macam-macam karya tulis ini disajikan dalam berbagai bentuk seperti: makalah, artikel, laporan penelitian, skripsi/tesis dan disertasi.

1. Makalah

Karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah disertai analisis logis dan objektif. Secara umum tujuan penulisan makalah adalah untuk kepentingan penyajian hasil penelitian atau gagasan pemikiran dalam suatu diskusi. Oleh karena itu, makalah umumnya ditulis secara singkat dan ringkas tanpa bab-bab. Format penulisannya adalah:

  1. Bagian Awal: Halaman Sampul (Judul, Jenis Karya Tulis, Tujuan Penulisan, Nama dan Identitas Penulis, Lembaga, Tahun), Daftar Isi, Daftar Tabel
  2. Bagian Inti: Pendahuluan, Latar Belakang Penulisan Makalah, Masalah Atau Topik Bahasan, Tujuan Penulisan Makalah, Teks Utama, Penutup
  3. Bagian Akhir: Daftar Kepustakaan dan Lampiran

2. Artikel

Artikel adalah karya tulis yang dirancang untuk penerbitan jurnal ilmiah. Artikel ini ditulis secara ringkas dan berisi hal-hal penting. Karena ringkas, maka ia tidak memiliki bab-bab. Artikel ilmiah dapat berupa hasil penelitian atau gagasan konseptual. Dalam penulisannya terdapat perbedaan masing-masingnya. Format penulisannya adalah sebagai berikut:

  1. Artikel hasil penelitian: * Judul Artikel – Penulis – Absrak – Kata Kunci – Pendahuluan –Metode – Penelitian –Hasil Penelitian – Pembahasan – Kesimpulan dan Saran.
  2. Artikel hasil gagasan/pemikiran: * Judul, Penulis, Abstrak, Kata Kunci, Pendahuluan, Bagian Inti, Penutup, Daftar Rujukan, dan lampiran

3. Proposal Penelitian

Proposal penelitian atau disebut juga usulan penelitian adalah rencana penelitian yang menggambarkan secara umum hal-hal yang akan diteliti dan cara penelitian itu dilaksanakan. Oleh karena itu ada beberapa hal yang dikemukakan di dalam sebuah penelitian. Format usulan penelitian dapat dibuat dalam beberapa alternatif seperti berikut:

  1. Model I, * Latar Belakang Masalah – Rumusan dan Batasan masalah – Tujuan Penelitian – Definisi Operasional – Metode Penelitian
  2. Model II, * Latar Belakang Masalah – masalah penelitian – tinjauan kepustakaan – tujuan penelitian – metode penelitian
  3. Model III, * Masalah dan tujuan penelitian –kerangka penelitian – rencana kegiatan penelitian – kepustakaan

4. Skripsi, Tesis dan Disertasi

Karya tulis ilmiah yang dijadikan sebagai persyaratan akhir untuk memperoleh gelar akademik pada perguruan tinggi disebut skripsi, tesis atau disertasi. Perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi adalah bahwa skripsi ditulis untuk meraih gelar sarjana, sementara tesis ditulis untuk meraih gelar magister dan disertasi ditulis untuk meraih gelar doktor. Baik skripsi, tesis dan disertasi dapat diangkat dari penelitian lapangan atau penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, format penulisannya pada umumnya menunjukan perbedaan, seperti berikut:

1. Skripsi, tesis, disertasi hasil penelitian lapangan

– Bagian Awal:

* Halaman Sampul – Halaman Judul – Lembaran Persetujuan – Abstrak – Kata Pengantar – Daftar Isi – Daftar Tabel – Daftar Gambar – Daftar Lampiran.

– Bagian Inti:

* Bab I Pendahuluan (Latar Belakang Masalah – Rumusan dan Batasan Masalah –Tujuan dan Kegunaan) – Bab II Kajian Kepustakaan – Bab III Metode Penelitian – Bab IV Hasil Penelitian – Bab V Pembahasan – Bab VI Penutup – Bagian Akhir: * Daftar Kepustakaan – Lampiran – Daftar Riwayat Hidup

2. Skripsi, tesis, disertasi hasil penelitian lapangan

– Bagian Awal:

* Halaman Sampul – Halaman Judul – Lembaran Persetujuan – Abstrak – Kata Pengantar – Daftar Isi.

– Bagian Inti:

* Bab I Pendahuluan (Latar Belakang Masalah – Rumusan dan Batasan masalah – Tujuan Penelitian – Definisi Operasional – Metode Penelitian)– Bab II (Landasan Teori)– Bab III dan Bab-bab seterusnya – Bab Penutup

. – Bagian Akhir:

* Daftar Kepustakaan – Lampiran – Daftar Riwayat Hidup

Hello world!

Posted: 04/06/2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.