Archive for the ‘immunoserologi’ Category

JUDUL                 : Uji Treponemal
METODE               : TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay)
SAMPEL                : Plasma / Serum
TUJUAN         : Tes hemaaglutinasi untuk menentukan Antibodi terhadap Treponema  pallidum secara kualitatif dan kuantitatif.
PRINSIP                     :
Tes STL (Syphilis TPHA  Liquid) menggunakan metode Hemaaglutinasi tidak langsung (indirect hemagglutination) untuk mendeteksi antibody spesifik terhadap Treponema Pallidum. Hemaaglutinasi tidak langsung (indirect hemagglutination) untuk mendeteksi antibody spesifik terhadap Treponema Pallidum. Eritrosit unggas dilapisi dengan antigen Treponema Pallidum. Adanya antibody sipilis yang mensentisasi sel akan menghasilkan aglutinasi dengan pola khas didalam mikroplate.
DASAR TEORI                 :
Uji treponemal
Uji treponemal merupakan uji yang spesifik terhadap sifilis, karena mendeteksi langsung Antibodi terhadap Antigen Treponema pallidum. Biasanya uji ini digunakan untuk mengkonfirmasi uji non-treponemal (non spesifik) dan untuk menilai respon bakteri treponemal tersebut.
Pada uji treponemal, sebagai antigen digunakan bakteri treponemal atau ekstraknya, misalnya Treponema Pallidum Hemagglutination Assay (TPHA),Treponema Pallidum Particle Assay (TPPA), dan Treponema Pallidum Immunobilization (TPI). Walaupun pengobatan secara dini diberikan, namun uji treponemal dapat memberi hasil positif seumur hidup.
Uji non-treponemal
Uji non-treponemal adalah uji yang mendeteksi antibodi IgG dan IgM terhadap materi-materi lipid yang dilepaskan dari sel-sel rusak dan terhadap antigen-mirip-lipid (lipoidal like antigen) Treponema pallidum. Karena uji ini tidak langsung mendeteksi terhadap keberadaan Treponema pallidum itu sendiri, maka uji ini bersifat non-spesifik. Uji ini akan menjadi negatif 1-4 minggu setelah pertama kali memberi hasil positif (seiring dengan pengobatan atau menyembuhnya lesi), sehingga hanya digunakan untuk melihat keberhasilan pengobatan terhadap penyakit sifilis. Uji non-treponemal meliputi VDRL (Venereal disease research laboratory), USR (unheated serum reagin), RPR (rapid plasma reagin), dan TRUST (toluidine red unheated serum test).
SIFILIS
Sifilis yang mempunyai nama lain Great pox, lues venereum, dan morbus gallicus merupakan suatu penyakit kronik dan bersifat sistemik yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dapat ditularkan melalui kontak seksual dan dari ibu ke janin. Penyakit ini juga mempunyai stadium remisi dan eksaserbasi. Di Indonesia insidensinya 0,61% dengan penderita terbanyak adalah stadium laten, disusul stadium 1 yang jarang, dan yang langka adalah sifilis stadium II.
Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan akuisita (dapatan). Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dini (sebelum 2 tahun), lanjut (setelah 2 tahun), dan stigmata. Sifilis akuisita dapat dibagi menurut 2 cara, yaitu secara klinis dan epidemiologik. Menurut klinis sifilis dibagi menjadi 3 stadium: Stadium I, stadium II, dan stadium III. Secara epidemiologik menurut WHO dibagi menjadi: Stadium dini menular (dalam dua tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium I (9-90 hari), stadium II (6 minggu-6 bulan atau 4-6 bulan setelah muncul lesi primer, dan stadium laten dini (dalam 2 tahun infeksi). Stadium lanjut tak menular (setelah dua tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut (lebih dari 2 tahun), dan stadium III (3-20 tahun).
Ada juga yang memasukkan sifilis kardiovaskular dan neurosifilis dalam kelompok lanjut. Sifilis primer merupakan stadium dimana organisme penyebab sifilis masuk ke dalam tubuh. Gejala awal tidak selalu tampak. Setelah mengalami masa inkubasi selama 10-90 hari, akan terjadi chancre, yaitu lesi lepuh kecil berukuran sekitar 13 mm. Chancre bisa terdapat pada genital, mulut, dada dan rectal.
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan berbagai cara, antara lain dengan menemukan Treponema pallidum pada pemeriksaan lapangan gelap, penggunaan PCR untuk mengidentifikasi molekul asam nukleat bakteri, pemeriksaan cairan serebrospinal serta penggunaan uji serologi. Untuk uji serologi sendiri baru akan memberikan hasil 1 -4 minggu setelah infeksi. Berdasarkan jenisnya, uji serologi dapat dibagi menjadi uji non-treponemal dan uji treponemal.
Etiologi
Penyebab sifilis adalah bakteri spirocheta Treponema pallidum.
Bakteriologi
Treponema pallidum tidak dapat ditumbuhkan di laboratorium atau di medium biokimia lain. Namun Treponema pallidum dapat ditumbuhkan pada makhluk hidup (hewan coba) yaitu digunakan testis kelinci.
Treponema pallidum dapat dilihat di mikroskop lapangan gelap. Warnanya pucat, bentuknya halus dan memiliki koil (gulungan) sehingga terlihat spiral. Panjangnya bervariasi mulai dari 6 sampai 15 μm dan panjang koilnya mulai dari 0.09 sampai 0.18 μm. Setiap bakteri memiliki sekitar 8 sampai 20 koil.
Adanya enzim hialuronidase pada permukaan bakteri memungkinkannya untuk menimbulkan respons inflamasi dan menyebar selama infeksi primer.
Patogenesis
Infeksi oleh Treponema pallidum menyebabkan inflamasi di tempat inokulasinya dan menyebar selama infeksi primer. Penyakit sifilis, jika tidak ditangani, dapat mengalami tiga fase: primer, sekunder, dan tersier (pada beberapa literatur disebut sebagai fase I, II, dan III). Di antara fase II dan III dapat terjadi fase laten. Fase primer dan sekunder sangat menular dan umumnya berlangsung sekitar 2 sampai 4 tahun. Periode laten dapat berlangsung selama 5 sampai 50 tahun.
Masa inkubasi penyakit sifilis adalah 9 sampai 90 hari. Secara umum, luka pertama di daerah genital muncul 3 minggu setelah pajanan. Pembesaran kelenjar getah bening di salah satu atau kedua paha dapat terjadi hingga 5 minggu setelah infeksi. Tes serologi baru dapat digunakan setelah 5.5 sampai 6 minggu, makula muncul pada minggu ke-8, lesi papular muncul pada bulan ke-3 dan kondiloma pada bulan ke 6.
Histopatologi
Pada lesi awal, dapat ditemukan sebukan limfosit dan sel plasma disertai proliferasi intimal arteri dan vena. Bakteri banyak ditemukan di dinding pembuluh darah dan limfatik. Pada lesi papular sifilis sekunder dapat dilihat adanya pembesaran endotel di pembuluh darah dermal.
Pada lesi selanjutnya, dapat ditemukan guma di permukaan mukokutaneus. Jaringan granulasi terbentuk dengan histiosit, fibroblas dan sel-sel epiteloid. Area nekrotik juga kadang-kadang terlihat. Pada lesi ini, bakteri spirochates jarang terlihat.
Transmisi
Bakteri Treponema pallidum penyebab sifilis dapat ditransmisikan melalui hubungan seksual, secara orogenital, celah-celah mikroskopis pada kulit yang intak atau membran mukosa, melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik, atau secara transplasental (disebut sebagai sifilis kongenital).
Gejala Klinis
Berdasarkan gambaran klinis, sifilis dapat dibagi menjadi stadium primer, sekunder, dan tersier (I, II, III,). Pada beberapa literatur ada penggolongan sifilis laten (di antara stadum II dan III). Berdasarkan asalnya sifilis dapat dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis didapat, sedangkan berdasarkan gejalanya dapat dibagi menjadi sifilis kardiovaskular dan neurosifilis; masing-masing memberikan gambaran klinis yang berbeda-beda.
1)     Sifilis primer (stadium I)
Tiga minggu setelah pajanan bakteri terdapat lesi primer terjadi pada jalan masuk (port d’entrée). Lesi umumnya hanya satu dan dapat berkembang menjadi papular yang erosif, berukuran miliar hingga lentikular, serta ada indurasi (pengerasan). Papul ini bisa berkembang menjadi erosi dan ulserasi. Jika berkembang menjadi ulserasi disebut ulkus durum, dengan tepi merah, lebar 1-2 mm, dapat berkrusta dan menghasilkan eksudat serosa.
Sekitar 3 minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar limfatik inguinal medial. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal, tidak nyeri, soliter, dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Lesi umumnya bisa terdapat pada alat kelamin, bisa juga ekstragenital (bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus). Tanpa pengobatan, lesi dapat sembuh spontan dalam 3-8 minggu tergantung ukuran besar-kecilnya. Hasil pemeriksaan TSS dapat seronegatif atau seropositif.
2)    Sifilis sekunder (stadium II)
Stadium sifilis sekunder dicapai ketika terjadi sifilis primer sudah sembuh; jarak antara sifilis primer dan sekunder sekitar 6 sampai 8 minggu. Lesi yang terbentuk dapat menyebar ke seluruh permukaan tubuh (tidak terbatas di tempat inokulasi bakteri) serta memiliki sifat tidak gatal, tidak memerah serta terdistribusi secara simetris. Gejala konstitusional mendahului sifilis sekunder, seperti nyeri kepala, demam, anoreksia dan nyeri sendi.
Pada sifilis sekunder dapat timbul kelainan-kelainan kulit seperti makula, papula, mikropapula dan erupsi miliar, pustul, alopesia, paronikia, lesi pada membran mukosa, limfadenopatik generalisata serta gangguan neurologis.
Diagnosis untuk sifilis sekunder dapat ditegakkan melalui hasil pemeriksaan serologik yang reaktif serta pemeriksaan lapangan gelap positif.
3)    Sifilis laten
Pada sifilis laten tidak terdapat manifestasi klinis, namun tes serologi menunjukkan hasil yang positif. Pada periode laten awal (2 tahun setelah infeksi), transmisi secara vertikal masih bisa terjadi meskipun transmisi melalui hubungan seksual berkurang (karena tidak ada lesi mukokutaneus).
4)    Sifilis tersier (stadium III)
Setelah periode laten (yang dapat berlangsung hingga 20 tahun), manifestasi dari sifilis tersier dapat terlihat. Lesi yang khas adalah guma. Guma dapat satu, dapat multipel, berukuran miliar hingga beberapa sentimeter. Guma dapat timbul di semua jaringan dan organ, membentuk nekrosis sentral dikelilingi jaringan granulasi dan pada bagian luarnya terdapat jaringan fibrosa. Guma dapat mengalami supurasi dan pecah menjadi ulkus dengan dinding curam dan dalam, dasarnya terdapat jaringan nekrostik berwarna kuning putih.
Kelainan lain berupa nodus di bawah kulit, ukuran miliar sampai lentikular, merah dan tidak terdapat nyeri tekan. Tempat predileksi terutama di permukaan ekstensor lengan, punggung dan wajah. Permukaan nodus dapat berskuama sehingga menyerupai psoriasis, tetapi tanda Auspitz negatif. Selain itu terdapat juga lesi pada membran mukosa, seperti palatum dan lidah.
5)    Sifilis kongenital
Transmisi Treponema pallidum secara transplasental dapat menyebabkan sifilis kongenital. Sifilis kongenital dapat dibagi menjadi stadium dini, lanjut, dan stigmata. (1) Pada sifilis kongenital stadium dini (3 minggu setelah dilahirkan), kelainan berupa vesikel dan bula yang pecah membentuk erosi yang ditutupi krusta. Kelainan ini sering terdapat di telapak kaki dan tangan, disebut pemfigus sifilitika. Bila kelainan muncul beberapa minggu setelah dilahirkan, kelainan berupa papul dan skuama (menyerupai sifilis stadium II). Kelainan lain dapat berupa adanya sekret hidung yang sering bercampur darah, osteokondritis, serta splenomegali dan pneumonia alba. (2) Sifilis kongenital lanjut terdapat pada usia lebih dari 2 tahun. Manifestasi klinis ditemukan pada usia 7-9 tahun dengan adanya Trias Hutchinson meliputi keratitis interstitial (kelainan pada mata), ketulian N VIII serta gigi Hutchinson (insisivus I atas kanan dan kiri berbentuk seperti obeng). Dapat juga terjadi paresis, perforasi palatum durum serta kelainan tulang tibia dan frontalis. (3) Pada stadium lanjut dapat terlihat stigmata pada sudut mulut (garis-garis yang jalannya radier), gigi Hutchinson serta penonjolan tulang orbital.
6)    Sifilis kardiovaskular
Sifilis kardiovaskular umumnya terjadi 10-20 tahun setelah infeksi. Tanda-tandanya berupa insufisiensi aorta atau aneurisma dan nekrosis aorta yang berlanjut ke arah katup. Sekitar 10% pasien sifilis mengalami fase ini. Pemeriksaan serologis umumnya reaktif.
7)    Neurosifilis
Penyakit ini umumnya bermanifestasi 10-20 tahun setelah infeksi. Neurosifilis dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) neurosifilis asimtomatik, di mana pemeriksaan serologi reaktif namun tidak terdapat gejala klinis, (2) neurosifilis meningovaskular, di mana terjadi kelainan susunan saraf pusat meliputi kerusakan pembuluh darah serebrum, infark dan ensefalomasia. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologi reaktif. (3) Neurosifilis parenkimatosa, yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis.
Tatalaksana
Penatalaksanaan sifilis dapat dibagi menjadi medikamentosa, pemantauan serologis serta nonmedikamentosa
1.  Medika mentosa
·       Sifilis primer dan sekunder
  •  Penisilin benzatin G dosis 4.8 juta unit injeksi i.m. (2.4 juta unit/kali) diberikan sekali seminggu, atau
  •  Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi i.m. sehari selama 10 hari, atau
  •  Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 4.8 juta unit, diperikan 2.4 juta unit/kali sebanyak 2 kali seminggu.

 

·       Sifilis laten
  •  Penisilin benzatin G dosis total 7.2 juta unit, atau
  •  Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari), atau
  •  Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 7.2 juta unit (diberikan 1.2 juta unit/kali, 2 kali seminggu)
·       Sifilis III
  •  Penisilin benzatin G dosis total 9.6 juta unit, atau
  •  Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit sehari), atau
  •  Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 9.6 juta unit (diberikan 1.2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).

 

·       Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
  •  Tetrasiklin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 15 hari, atau
  •  Eritromisin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 15 hari
  •  Untuk pasien sifilis laten lanjut (>1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
  •  Tetrasiklin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 30 hari, atau
  •  Eritromisin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 30 hari

 

2.    Pemantauan serologi dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XII tahun pertama, dan setiap 6 bulan pada tahun kedua
3.    Nonmedikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
  •   Bahaya PMS dan komplikasinya
  •   Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
  •  Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
  •  Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi
  •  Cara-cara menghindari PMS di masa yang akan datang.

 

ALAT DAN BAHAN
  1.  Mikropipet atau mikrodiluter (25 µl, 75 µl, 100 µl)
  2.  Mikroplate “U”
  3.  Specimen/sampel ; serum dihindarkan dari kontaminasi dan hemolisis , serum segar bias disimpan maksimal 24 jam, suhu 2-8°C atau 4 minggu pada suhu -20°C

 

PROSEDUR KERJA
A.     TES KUALITATIF
1)   Dipipet DILUENT sebanyak 190 µl kedalam well 1, dan 25 µl masing-masing well 2 dan well 3
2)  Tambahkan 10 µl serum kedalam w1, campur dan pindahkan 25 µl ke W2 (control well). Campur dan pindahkan 25 µl ke w2 dan 25 µl ke w3.
3)  Tambahkan 75 µl suspense Control Cel(CC) ke W2 dan 75 µl ke suspense Test Cell (TC) ke W3. Goyangkan plate dan campur dengan baik.
4)  Letakkan plate diatas permukaan warna putih, jauhkan dari getaran dan sinar matahari langsung.
B.      TES KUANTITATIF
1)   Dipipet sebanyak 50 µl lalu dipindahkan pada lubang A dan B masing 25 µl dari W1
2)  Diambil sebanyak 25µl dari lubang B, campur lalu pindahkan ke C sebanyak 25 µl, begitu seterusnya hingga ke lubang H dan 25 µl terakhir disisihkan.
3)  Tambahkan DILUENT dari B hingga H sebanyak 25 µl dan Test Cell 75 µl.
Inkubasi selama 45 – 60 menit.

TEST / UJI WIDAL

Posted: 28/09/2011 in immunoserologi

Gambaran klinis penyakit demam tifoid sangat bervariasi dari hanya sebagai penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian. Hal ini mungkin menyebabkan seorang ahli yang sudah berpengalamanpun dapat mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosis demam tifoid apabila hanya berdasarkan gambaran klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mikrobiologi tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Tes ideal untuk suatu pemeriksaan laboratorium seharusnya bersifat sensitif, spesifik, dan cepat diketahui hasilnya. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid yang ada sampai saat ini adalah dengan metode konvensional, yaitu kultur kuman dan uji serologi Widal serta metode non-konvensional, yaitu antara lain Poly-merase Chain Reaction (PCR), Enzyme Immunoassay Dot (EIA), dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).

DEFENISI

Widal test merupakan suatu uji serum darah yang memakai prinsip reaksi agglutinasi untuk mendiagnosa demam typhoid. Dengan kata lain merupakan tes serologi yang digunakan untuk mendeteksi demam typhoid.

PRINSIP

Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (agglutinin). Antigen yang digunakan pada tes widal ini berasal dari suspense salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dalam laboratorium. Dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar anti dapat ditentukan. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.

Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan. Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (local) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis (import). Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung Widal menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang bermakna antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga bisa dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis demam typhoid.

Penelitian pada anak oleh Choo dkk (1990) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 89% pada titer O atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar 34.2% dan nilai prediksi negatif sebesar 99.2%. Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak dengan hasil biakan positif, ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64-74% dan spesifisitas sebesar 76-83%.

Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut :

    • Antigen O
      Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C selama 2–5 jam, alkohol dan asam yang encer.
    • Antigen H
      Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi dan berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60°C dan pada pemberian alkohol atau asam.
    • Antigen Vi
      Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60°C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini digunakan untuk mengetahui adanya karier.
  • OuterMembrane Protein (OMP)
    Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Porin merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D, OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM < 6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85–100°C. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat sensitif terhadap protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa peneliti menemukan antigen OMP S typhi yang sangat spesifik yaitu antigen protein 50 kDa/52 kDa.

INTERPRETASI HASIL

Interpretasi dari uji widal ini harus memperhatikan beberapa factor antara lain sensitivitas, spesifitas, stadium penyakit; factor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; saat pengambilan specimen; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non endemis); factor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.
Beberapa factor yang dapat mempengaruhi uji Widal dapat dijelaskan sebagai berikut, antara lain :

  1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
  2. Saat pengambilan specimen : berdasarkan penelitian Senewiratne, dkk. kenaikan titer antibodi ke level diagnostic pada uji Widal umumnya paling baik pada minggu kedua atau ketiga, yaitu 95,7%, sedangkan kenaikan titer pada minggu pertama adalah hanya 85,7%.
  3. Pengobatan dini dengan antibiotika ; pemberian antibiotika sebelumnya dapat menghambat pembentukan antibodi.
  4. Vaksinasi terhadap salmonella bisa memberikan reaksi positif palsu. Hal ini dapat dijelaskan bahwa setelah divaksinasi titer agglutinin O dan H meningkat dan menetap selama beberapa waktu. Jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemeriksaan ulang tes Widal seminggu kemudian. Infeksi akan menunjukkan peningkatan titer, sementara pasien yang divaksinasi tidak akan menunjukkan peningkatan titer.
  5. Obat-obatan immunosupresif dapat menghambat pembentukan antibodi.
  6. Reaksi anamnesa. Pada individu yang terkena infeksi typhoid di masa lalu, kadang-kadang terjadi peningkatan antibodi salmonella saat ia menderita infeksi yang bukan typhoid, sehingga diperlukan pemeriksaan Widal ulang seminggu kemudian.
  7. Reaksi silang ; Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A, B, C) memiliki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakteri lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive). Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. typhi (bukan tifoid).
  8. Penyakit-penyakit tertentu seperti malaria, tetanus, sirosis dapat menyebabkan positif palsu.
  9. Konsentrasi suspense antigen dan strain salmonella yang digunakan akan mempengaruhi hasil uji widal.

PENILAIAN

Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial diantara para ahli. Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer agglutinin lebih atau sama dengan 4 kali terutama agglutinin O atau agglutinin H bernilai diagnostic yang penting untuk demam typhoid. Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada specimen tunggal, tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Begitu juga kenaikan titer agglutinin terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostic yang penting untuk demam typhoid, namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis tersangka demam typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemic atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di daerah endemic, sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemic, kemungkinan untuk menelan S.typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemic yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih diperlukan untuk menunjang diagnosis demam typhoid, maka ambang atas titer rujukan, baik pada anak dan dewasa perlu ditentukan.o

Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana penunjang diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan titer yanglebih tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas an ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.

Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.

    • Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
    • Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
    • Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasiendengan gejala klinis khas.

REEFEERENSI

    • Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Puspa Wardhani, Prihatini, Probohoesodo, M.Y. Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr Soetomo Surabaya.
    • Metode Diagnostik Demam Tifoid Pada Anak. Risky Vitria Prasetyo, Ismoedijanto. Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi . Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya