sdah 3 tahun berturut2 gak pernah rayain idul adha sama kluar ga sendiri!!!

tau kenapa?

gak tau ya?

gak tau kan?

gak tau donk!!

ok, ok,,, srius lg

itu karna aku lagi di kampungnya orang, biasa anak yang merantau dikota besar tanpa sanak sodara, tanpa modal besar, tanpa kendaraan,,,

mirisnya hidupku,,

tp gak papa!

walaupun gak punya keluarga, tp aku selalau rayain idul adha ma kluarganya orang, pernah dibulukumba, bone, dan sekarang ditakalar,,,

berhubung punya tampang yang patut untung dikasihani, jadi aku selalu disayang ma semuanya, kecuali hewan kurbannya,,

secara dagingnya mau aku makan,,,, hahahha

tahun ini lebaran dirumah bapak ma ibu alias ayah ma bunda alias pak samsul ma buk lia ma anaknya yang super cuek, gina,,,

gina mang cuek awalnya, tp setelah dekat ternyata dia baik juga, karakternya hapir mirip ma aku waktu SMA, sekarang dia juga masih SMA

ada juga reza, keponakannya ibu, tp betah main dirumah, alasannya se karna ada aku, hahahha

dasar brondong ababil, katanya nama pacarnya sama kayak nama aku, jadi dia betah liatin aku,,,

ya ampun, apa hubungannya nama ma tampang, jauh beda banget,,, tp gak papa aku jg senang,,,

dah tua begini masih ada brondong yang naksir juga,,,,

hahaha,, aasssseeekkk,,,,

 

berangkat kerumah ibu barengan ma pak arwin, dosen muda dikampusku, rangkap keponakannya ibu,,,

kita brangkat jam 7:15 nyampenya jam 9:05

butuh waktu 1 jam 50 menit buat sampe ke takalar,,, gila lama bener,, padahal normalnya itu bisa ditempuh kurang dari 1 jam,,,

ne semua gara2 bapak jalannya lelet banget, cuma 40 km/jam jarang lebih dan sering kurang,,,

gak brani lambung mobil, maunya slalu mengalah,,, OMG, pantatku dah gatal mau nyampe cepet2, eh dia malah enak2 lari santai, untungnya dia dosen jadi saaya gak banyaak omong,,,

nyampe rumah langsung disuruh makan,,,

ngomong2 rumahnya ibuk bagus juga,,

ruang makan warna ungu muda

dapur warna ungu tua

ruang santai warna ijo ne tempat favoritnya rendi

ruang sholat warna orange

kamar bapak warna coklat

kamar gina warna ijo

warnanya masih banyak lg,,, tp sumpah rumahnya nyaman bgt,, jd gak mau pulang,,,

manaa disampingnya langsung da sawah,,,

ne bener2 kluar ga bahagia, tiap saat kerjannya ya cuma becanda,,,

moment yang tek tellupakan tu waktu pagi,,,

bapak sibuk rapiin kebun sambil nyanyi lagu ayu ting ting

ibuk cuci baju sambil sahut2an ma bapak,

trus aku cuci piring didalam,,,

beraasa kayak lg diruah sendiri,,,,

orang makassar bilang,, “nyaman na gang”

hahahahah

Iklan
JUDUL                 : Uji Treponemal
METODE               : TPHA (Treponema Pallidum Hemagglutination Assay)
SAMPEL                : Plasma / Serum
TUJUAN         : Tes hemaaglutinasi untuk menentukan Antibodi terhadap Treponema  pallidum secara kualitatif dan kuantitatif.
PRINSIP                     :
Tes STL (Syphilis TPHA  Liquid) menggunakan metode Hemaaglutinasi tidak langsung (indirect hemagglutination) untuk mendeteksi antibody spesifik terhadap Treponema Pallidum. Hemaaglutinasi tidak langsung (indirect hemagglutination) untuk mendeteksi antibody spesifik terhadap Treponema Pallidum. Eritrosit unggas dilapisi dengan antigen Treponema Pallidum. Adanya antibody sipilis yang mensentisasi sel akan menghasilkan aglutinasi dengan pola khas didalam mikroplate.
DASAR TEORI                 :
Uji treponemal
Uji treponemal merupakan uji yang spesifik terhadap sifilis, karena mendeteksi langsung Antibodi terhadap Antigen Treponema pallidum. Biasanya uji ini digunakan untuk mengkonfirmasi uji non-treponemal (non spesifik) dan untuk menilai respon bakteri treponemal tersebut.
Pada uji treponemal, sebagai antigen digunakan bakteri treponemal atau ekstraknya, misalnya Treponema Pallidum Hemagglutination Assay (TPHA),Treponema Pallidum Particle Assay (TPPA), dan Treponema Pallidum Immunobilization (TPI). Walaupun pengobatan secara dini diberikan, namun uji treponemal dapat memberi hasil positif seumur hidup.
Uji non-treponemal
Uji non-treponemal adalah uji yang mendeteksi antibodi IgG dan IgM terhadap materi-materi lipid yang dilepaskan dari sel-sel rusak dan terhadap antigen-mirip-lipid (lipoidal like antigen) Treponema pallidum. Karena uji ini tidak langsung mendeteksi terhadap keberadaan Treponema pallidum itu sendiri, maka uji ini bersifat non-spesifik. Uji ini akan menjadi negatif 1-4 minggu setelah pertama kali memberi hasil positif (seiring dengan pengobatan atau menyembuhnya lesi), sehingga hanya digunakan untuk melihat keberhasilan pengobatan terhadap penyakit sifilis. Uji non-treponemal meliputi VDRL (Venereal disease research laboratory), USR (unheated serum reagin), RPR (rapid plasma reagin), dan TRUST (toluidine red unheated serum test).
SIFILIS
Sifilis yang mempunyai nama lain Great pox, lues venereum, dan morbus gallicus merupakan suatu penyakit kronik dan bersifat sistemik yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dapat ditularkan melalui kontak seksual dan dari ibu ke janin. Penyakit ini juga mempunyai stadium remisi dan eksaserbasi. Di Indonesia insidensinya 0,61% dengan penderita terbanyak adalah stadium laten, disusul stadium 1 yang jarang, dan yang langka adalah sifilis stadium II.
Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan akuisita (dapatan). Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dini (sebelum 2 tahun), lanjut (setelah 2 tahun), dan stigmata. Sifilis akuisita dapat dibagi menurut 2 cara, yaitu secara klinis dan epidemiologik. Menurut klinis sifilis dibagi menjadi 3 stadium: Stadium I, stadium II, dan stadium III. Secara epidemiologik menurut WHO dibagi menjadi: Stadium dini menular (dalam dua tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium I (9-90 hari), stadium II (6 minggu-6 bulan atau 4-6 bulan setelah muncul lesi primer, dan stadium laten dini (dalam 2 tahun infeksi). Stadium lanjut tak menular (setelah dua tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut (lebih dari 2 tahun), dan stadium III (3-20 tahun).
Ada juga yang memasukkan sifilis kardiovaskular dan neurosifilis dalam kelompok lanjut. Sifilis primer merupakan stadium dimana organisme penyebab sifilis masuk ke dalam tubuh. Gejala awal tidak selalu tampak. Setelah mengalami masa inkubasi selama 10-90 hari, akan terjadi chancre, yaitu lesi lepuh kecil berukuran sekitar 13 mm. Chancre bisa terdapat pada genital, mulut, dada dan rectal.
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dengan berbagai cara, antara lain dengan menemukan Treponema pallidum pada pemeriksaan lapangan gelap, penggunaan PCR untuk mengidentifikasi molekul asam nukleat bakteri, pemeriksaan cairan serebrospinal serta penggunaan uji serologi. Untuk uji serologi sendiri baru akan memberikan hasil 1 -4 minggu setelah infeksi. Berdasarkan jenisnya, uji serologi dapat dibagi menjadi uji non-treponemal dan uji treponemal.
Etiologi
Penyebab sifilis adalah bakteri spirocheta Treponema pallidum.
Bakteriologi
Treponema pallidum tidak dapat ditumbuhkan di laboratorium atau di medium biokimia lain. Namun Treponema pallidum dapat ditumbuhkan pada makhluk hidup (hewan coba) yaitu digunakan testis kelinci.
Treponema pallidum dapat dilihat di mikroskop lapangan gelap. Warnanya pucat, bentuknya halus dan memiliki koil (gulungan) sehingga terlihat spiral. Panjangnya bervariasi mulai dari 6 sampai 15 μm dan panjang koilnya mulai dari 0.09 sampai 0.18 μm. Setiap bakteri memiliki sekitar 8 sampai 20 koil.
Adanya enzim hialuronidase pada permukaan bakteri memungkinkannya untuk menimbulkan respons inflamasi dan menyebar selama infeksi primer.
Patogenesis
Infeksi oleh Treponema pallidum menyebabkan inflamasi di tempat inokulasinya dan menyebar selama infeksi primer. Penyakit sifilis, jika tidak ditangani, dapat mengalami tiga fase: primer, sekunder, dan tersier (pada beberapa literatur disebut sebagai fase I, II, dan III). Di antara fase II dan III dapat terjadi fase laten. Fase primer dan sekunder sangat menular dan umumnya berlangsung sekitar 2 sampai 4 tahun. Periode laten dapat berlangsung selama 5 sampai 50 tahun.
Masa inkubasi penyakit sifilis adalah 9 sampai 90 hari. Secara umum, luka pertama di daerah genital muncul 3 minggu setelah pajanan. Pembesaran kelenjar getah bening di salah satu atau kedua paha dapat terjadi hingga 5 minggu setelah infeksi. Tes serologi baru dapat digunakan setelah 5.5 sampai 6 minggu, makula muncul pada minggu ke-8, lesi papular muncul pada bulan ke-3 dan kondiloma pada bulan ke 6.
Histopatologi
Pada lesi awal, dapat ditemukan sebukan limfosit dan sel plasma disertai proliferasi intimal arteri dan vena. Bakteri banyak ditemukan di dinding pembuluh darah dan limfatik. Pada lesi papular sifilis sekunder dapat dilihat adanya pembesaran endotel di pembuluh darah dermal.
Pada lesi selanjutnya, dapat ditemukan guma di permukaan mukokutaneus. Jaringan granulasi terbentuk dengan histiosit, fibroblas dan sel-sel epiteloid. Area nekrotik juga kadang-kadang terlihat. Pada lesi ini, bakteri spirochates jarang terlihat.
Transmisi
Bakteri Treponema pallidum penyebab sifilis dapat ditransmisikan melalui hubungan seksual, secara orogenital, celah-celah mikroskopis pada kulit yang intak atau membran mukosa, melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik, atau secara transplasental (disebut sebagai sifilis kongenital).
Gejala Klinis
Berdasarkan gambaran klinis, sifilis dapat dibagi menjadi stadium primer, sekunder, dan tersier (I, II, III,). Pada beberapa literatur ada penggolongan sifilis laten (di antara stadum II dan III). Berdasarkan asalnya sifilis dapat dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis didapat, sedangkan berdasarkan gejalanya dapat dibagi menjadi sifilis kardiovaskular dan neurosifilis; masing-masing memberikan gambaran klinis yang berbeda-beda.
1)     Sifilis primer (stadium I)
Tiga minggu setelah pajanan bakteri terdapat lesi primer terjadi pada jalan masuk (port d’entrée). Lesi umumnya hanya satu dan dapat berkembang menjadi papular yang erosif, berukuran miliar hingga lentikular, serta ada indurasi (pengerasan). Papul ini bisa berkembang menjadi erosi dan ulserasi. Jika berkembang menjadi ulserasi disebut ulkus durum, dengan tepi merah, lebar 1-2 mm, dapat berkrusta dan menghasilkan eksudat serosa.
Sekitar 3 minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar limfatik inguinal medial. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal, tidak nyeri, soliter, dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Lesi umumnya bisa terdapat pada alat kelamin, bisa juga ekstragenital (bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus). Tanpa pengobatan, lesi dapat sembuh spontan dalam 3-8 minggu tergantung ukuran besar-kecilnya. Hasil pemeriksaan TSS dapat seronegatif atau seropositif.
2)    Sifilis sekunder (stadium II)
Stadium sifilis sekunder dicapai ketika terjadi sifilis primer sudah sembuh; jarak antara sifilis primer dan sekunder sekitar 6 sampai 8 minggu. Lesi yang terbentuk dapat menyebar ke seluruh permukaan tubuh (tidak terbatas di tempat inokulasi bakteri) serta memiliki sifat tidak gatal, tidak memerah serta terdistribusi secara simetris. Gejala konstitusional mendahului sifilis sekunder, seperti nyeri kepala, demam, anoreksia dan nyeri sendi.
Pada sifilis sekunder dapat timbul kelainan-kelainan kulit seperti makula, papula, mikropapula dan erupsi miliar, pustul, alopesia, paronikia, lesi pada membran mukosa, limfadenopatik generalisata serta gangguan neurologis.
Diagnosis untuk sifilis sekunder dapat ditegakkan melalui hasil pemeriksaan serologik yang reaktif serta pemeriksaan lapangan gelap positif.
3)    Sifilis laten
Pada sifilis laten tidak terdapat manifestasi klinis, namun tes serologi menunjukkan hasil yang positif. Pada periode laten awal (2 tahun setelah infeksi), transmisi secara vertikal masih bisa terjadi meskipun transmisi melalui hubungan seksual berkurang (karena tidak ada lesi mukokutaneus).
4)    Sifilis tersier (stadium III)
Setelah periode laten (yang dapat berlangsung hingga 20 tahun), manifestasi dari sifilis tersier dapat terlihat. Lesi yang khas adalah guma. Guma dapat satu, dapat multipel, berukuran miliar hingga beberapa sentimeter. Guma dapat timbul di semua jaringan dan organ, membentuk nekrosis sentral dikelilingi jaringan granulasi dan pada bagian luarnya terdapat jaringan fibrosa. Guma dapat mengalami supurasi dan pecah menjadi ulkus dengan dinding curam dan dalam, dasarnya terdapat jaringan nekrostik berwarna kuning putih.
Kelainan lain berupa nodus di bawah kulit, ukuran miliar sampai lentikular, merah dan tidak terdapat nyeri tekan. Tempat predileksi terutama di permukaan ekstensor lengan, punggung dan wajah. Permukaan nodus dapat berskuama sehingga menyerupai psoriasis, tetapi tanda Auspitz negatif. Selain itu terdapat juga lesi pada membran mukosa, seperti palatum dan lidah.
5)    Sifilis kongenital
Transmisi Treponema pallidum secara transplasental dapat menyebabkan sifilis kongenital. Sifilis kongenital dapat dibagi menjadi stadium dini, lanjut, dan stigmata. (1) Pada sifilis kongenital stadium dini (3 minggu setelah dilahirkan), kelainan berupa vesikel dan bula yang pecah membentuk erosi yang ditutupi krusta. Kelainan ini sering terdapat di telapak kaki dan tangan, disebut pemfigus sifilitika. Bila kelainan muncul beberapa minggu setelah dilahirkan, kelainan berupa papul dan skuama (menyerupai sifilis stadium II). Kelainan lain dapat berupa adanya sekret hidung yang sering bercampur darah, osteokondritis, serta splenomegali dan pneumonia alba. (2) Sifilis kongenital lanjut terdapat pada usia lebih dari 2 tahun. Manifestasi klinis ditemukan pada usia 7-9 tahun dengan adanya Trias Hutchinson meliputi keratitis interstitial (kelainan pada mata), ketulian N VIII serta gigi Hutchinson (insisivus I atas kanan dan kiri berbentuk seperti obeng). Dapat juga terjadi paresis, perforasi palatum durum serta kelainan tulang tibia dan frontalis. (3) Pada stadium lanjut dapat terlihat stigmata pada sudut mulut (garis-garis yang jalannya radier), gigi Hutchinson serta penonjolan tulang orbital.
6)    Sifilis kardiovaskular
Sifilis kardiovaskular umumnya terjadi 10-20 tahun setelah infeksi. Tanda-tandanya berupa insufisiensi aorta atau aneurisma dan nekrosis aorta yang berlanjut ke arah katup. Sekitar 10% pasien sifilis mengalami fase ini. Pemeriksaan serologis umumnya reaktif.
7)    Neurosifilis
Penyakit ini umumnya bermanifestasi 10-20 tahun setelah infeksi. Neurosifilis dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) neurosifilis asimtomatik, di mana pemeriksaan serologi reaktif namun tidak terdapat gejala klinis, (2) neurosifilis meningovaskular, di mana terjadi kelainan susunan saraf pusat meliputi kerusakan pembuluh darah serebrum, infark dan ensefalomasia. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologi reaktif. (3) Neurosifilis parenkimatosa, yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis.
Tatalaksana
Penatalaksanaan sifilis dapat dibagi menjadi medikamentosa, pemantauan serologis serta nonmedikamentosa
1.  Medika mentosa
·       Sifilis primer dan sekunder
  •  Penisilin benzatin G dosis 4.8 juta unit injeksi i.m. (2.4 juta unit/kali) diberikan sekali seminggu, atau
  •  Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi i.m. sehari selama 10 hari, atau
  •  Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 4.8 juta unit, diperikan 2.4 juta unit/kali sebanyak 2 kali seminggu.

 

·       Sifilis laten
  •  Penisilin benzatin G dosis total 7.2 juta unit, atau
  •  Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari), atau
  •  Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 7.2 juta unit (diberikan 1.2 juta unit/kali, 2 kali seminggu)
·       Sifilis III
  •  Penisilin benzatin G dosis total 9.6 juta unit, atau
  •  Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit sehari), atau
  •  Penisilin prokain +2% alumunium monostearat, dosis total 9.6 juta unit (diberikan 1.2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).

 

·       Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
  •  Tetrasiklin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 15 hari, atau
  •  Eritromisin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 15 hari
  •  Untuk pasien sifilis laten lanjut (>1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:
  •  Tetrasiklin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 30 hari, atau
  •  Eritromisin 500 mg peroral 4 kali sehari selama 30 hari

 

2.    Pemantauan serologi dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XII tahun pertama, dan setiap 6 bulan pada tahun kedua
3.    Nonmedikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
  •   Bahaya PMS dan komplikasinya
  •   Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
  •  Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
  •  Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi
  •  Cara-cara menghindari PMS di masa yang akan datang.

 

ALAT DAN BAHAN
  1.  Mikropipet atau mikrodiluter (25 µl, 75 µl, 100 µl)
  2.  Mikroplate “U”
  3.  Specimen/sampel ; serum dihindarkan dari kontaminasi dan hemolisis , serum segar bias disimpan maksimal 24 jam, suhu 2-8°C atau 4 minggu pada suhu -20°C

 

PROSEDUR KERJA
A.     TES KUALITATIF
1)   Dipipet DILUENT sebanyak 190 µl kedalam well 1, dan 25 µl masing-masing well 2 dan well 3
2)  Tambahkan 10 µl serum kedalam w1, campur dan pindahkan 25 µl ke W2 (control well). Campur dan pindahkan 25 µl ke w2 dan 25 µl ke w3.
3)  Tambahkan 75 µl suspense Control Cel(CC) ke W2 dan 75 µl ke suspense Test Cell (TC) ke W3. Goyangkan plate dan campur dengan baik.
4)  Letakkan plate diatas permukaan warna putih, jauhkan dari getaran dan sinar matahari langsung.
B.      TES KUANTITATIF
1)   Dipipet sebanyak 50 µl lalu dipindahkan pada lubang A dan B masing 25 µl dari W1
2)  Diambil sebanyak 25µl dari lubang B, campur lalu pindahkan ke C sebanyak 25 µl, begitu seterusnya hingga ke lubang H dan 25 µl terakhir disisihkan.
3)  Tambahkan DILUENT dari B hingga H sebanyak 25 µl dan Test Cell 75 µl.
Inkubasi selama 45 – 60 menit.

Tujuan:

Memperlihatkan dan memahami konsep aktivitas spesifik enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) dan Glutamate-Oksaloasetat Transaminase (GOT)

 

Teori singkat

SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, Sebuah enzim yangbiasanya hadir dalam dan jantung sel-sel hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati ataujantung rusak. Tingkat darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan hati (misalnya,dari hepatitis virus ) atau dengan penghinaan terhadap jantung (misalnya, dari serangan jantung).Beberapa obat juga dapat meningkatkan kadar SGOT. SGOT juga disebut aspartateaminotransferase (AST).

Sedangkan SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, SGPTatau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukanpada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlahyang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tesSGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkanpada proses kronis didapat sebaliknya.

SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secarasemi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :

Laki-laki : 0 – 50 U/L

Perempuan : 0 – 35 U/L

 

Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebutdalam plasma lebih besar dari kadar normalnya.Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :

  • Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitasobat atau kimia)
  • Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatanempedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
  • Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosisbiliaris

 

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

  • Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
  • Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapatmeningkatkan kadar
  • Hemolisis sampel
  • Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin, karbenisilin,eritromisin, gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin, tetrasiklin), narkotika(meperidin/demerol, morfin, kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparatdigitalis, indometasin (Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol(Inderal), kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin.
  • Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar

 

Alat:

  • Spekrtrofotometer
  • Tabung reasi + rak
  • Jarum suntik
  • Alcohol pads
  • Mikropipet
  • Tipp

 

Bahan:

  • Plasma darah (hindarkan hemolisis)
  • Reagen 1 (R1/reagen enzim):-.
    • Tris Buffer pH7,5 100 mmol/L
    • L-Alanin 500 mmol/L-. LDH 1200 U/L
    • Reagen 2 (R2/reagen pemulai): -.
      • 2-oxoketoglutarat 15 mmol/L-. NADH0,18 mmol/L

 

Cara kerja:

  1. Lakukan pengambilan darah sebanyak 3ml (hindari hemolisis), masukkan kedalamtabung vacutest kemudian disentrifugasi untuk mendapatkan plasmanya
  2. Hangatkan reagen dan cuvet pada temperature yang diinginkan dan temperature haruskonstan (±0,5ÛC)
  3. Campurkan sampel 200L dengan reagen 1 1000L lalu diinkubasi pada temperature25/30ÛC, sampel 100L dengan reagen 1 1000L  lalu diinkubasi selama 5 menit padatemperatur 37ÛC
  4. Tambahkan reagen 2, masing-masing sebanyak 250
  5. Campurkan reagen dengan sampel, baca absorbansi pada panjang gelombang 365nm,setelah 1 menit dan pada saat yang sama, hitung waktu dengan stopwatch
  6. Baca lagi absorbansi dengan pasti setelah 1 menit, 2 menit dan 3 menit

 

TEST / UJI WIDAL

Posted: 28/09/2011 in immunoserologi

Gambaran klinis penyakit demam tifoid sangat bervariasi dari hanya sebagai penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian. Hal ini mungkin menyebabkan seorang ahli yang sudah berpengalamanpun dapat mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosis demam tifoid apabila hanya berdasarkan gambaran klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mikrobiologi tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Tes ideal untuk suatu pemeriksaan laboratorium seharusnya bersifat sensitif, spesifik, dan cepat diketahui hasilnya. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid yang ada sampai saat ini adalah dengan metode konvensional, yaitu kultur kuman dan uji serologi Widal serta metode non-konvensional, yaitu antara lain Poly-merase Chain Reaction (PCR), Enzyme Immunoassay Dot (EIA), dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).

DEFENISI

Widal test merupakan suatu uji serum darah yang memakai prinsip reaksi agglutinasi untuk mendiagnosa demam typhoid. Dengan kata lain merupakan tes serologi yang digunakan untuk mendeteksi demam typhoid.

PRINSIP

Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (agglutinin). Antigen yang digunakan pada tes widal ini berasal dari suspense salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dalam laboratorium. Dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar anti dapat ditentukan. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.

Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan. Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (local) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis (import). Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung Widal menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang bermakna antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga bisa dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis demam typhoid.

Penelitian pada anak oleh Choo dkk (1990) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 89% pada titer O atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar 34.2% dan nilai prediksi negatif sebesar 99.2%. Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak dengan hasil biakan positif, ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64-74% dan spesifisitas sebesar 76-83%.

Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut :

    • Antigen O
      Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C selama 2–5 jam, alkohol dan asam yang encer.
    • Antigen H
      Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi dan berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60°C dan pada pemberian alkohol atau asam.
    • Antigen Vi
      Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60°C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini digunakan untuk mengetahui adanya karier.
  • OuterMembrane Protein (OMP)
    Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Porin merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D, OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM < 6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85–100°C. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat sensitif terhadap protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa peneliti menemukan antigen OMP S typhi yang sangat spesifik yaitu antigen protein 50 kDa/52 kDa.

INTERPRETASI HASIL

Interpretasi dari uji widal ini harus memperhatikan beberapa factor antara lain sensitivitas, spesifitas, stadium penyakit; factor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; saat pengambilan specimen; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non endemis); factor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.
Beberapa factor yang dapat mempengaruhi uji Widal dapat dijelaskan sebagai berikut, antara lain :

  1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
  2. Saat pengambilan specimen : berdasarkan penelitian Senewiratne, dkk. kenaikan titer antibodi ke level diagnostic pada uji Widal umumnya paling baik pada minggu kedua atau ketiga, yaitu 95,7%, sedangkan kenaikan titer pada minggu pertama adalah hanya 85,7%.
  3. Pengobatan dini dengan antibiotika ; pemberian antibiotika sebelumnya dapat menghambat pembentukan antibodi.
  4. Vaksinasi terhadap salmonella bisa memberikan reaksi positif palsu. Hal ini dapat dijelaskan bahwa setelah divaksinasi titer agglutinin O dan H meningkat dan menetap selama beberapa waktu. Jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemeriksaan ulang tes Widal seminggu kemudian. Infeksi akan menunjukkan peningkatan titer, sementara pasien yang divaksinasi tidak akan menunjukkan peningkatan titer.
  5. Obat-obatan immunosupresif dapat menghambat pembentukan antibodi.
  6. Reaksi anamnesa. Pada individu yang terkena infeksi typhoid di masa lalu, kadang-kadang terjadi peningkatan antibodi salmonella saat ia menderita infeksi yang bukan typhoid, sehingga diperlukan pemeriksaan Widal ulang seminggu kemudian.
  7. Reaksi silang ; Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A, B, C) memiliki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakteri lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive). Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. typhi (bukan tifoid).
  8. Penyakit-penyakit tertentu seperti malaria, tetanus, sirosis dapat menyebabkan positif palsu.
  9. Konsentrasi suspense antigen dan strain salmonella yang digunakan akan mempengaruhi hasil uji widal.

PENILAIAN

Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial diantara para ahli. Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer agglutinin lebih atau sama dengan 4 kali terutama agglutinin O atau agglutinin H bernilai diagnostic yang penting untuk demam typhoid. Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada specimen tunggal, tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Begitu juga kenaikan titer agglutinin terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostic yang penting untuk demam typhoid, namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis tersangka demam typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemic atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di daerah endemic, sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemic, kemungkinan untuk menelan S.typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemic yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih diperlukan untuk menunjang diagnosis demam typhoid, maka ambang atas titer rujukan, baik pada anak dan dewasa perlu ditentukan.o

Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana penunjang diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan titer yanglebih tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas an ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.

Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.

    • Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
    • Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
    • Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasiendengan gejala klinis khas.

REEFEERENSI

    • Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal. Puspa Wardhani, Prihatini, Probohoesodo, M.Y. Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr Soetomo Surabaya.
    • Metode Diagnostik Demam Tifoid Pada Anak. Risky Vitria Prasetyo, Ismoedijanto. Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi . Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Latar belakang daripada JPS-BK (Jaring pengaman Sosial Bidang Kesehatan) dilaksanakan sejak Oktober 1998 yang bertujuan membantu keluarga miskin (Gakin) di bidang kesehatan akibat dampak dari krisis moniter.

Pemerintah mengadakan program JPS-BK ini bertujuan untuk terlayaninya penderita miskin (kurang mampu) yang berobat ke RS sesuai indikasi media dan kemampuan pelayanan serta dapat dipertahankan mutu pelayanan RS.

BAB II

PEMBAHASAN

PENGERTIAN

Jaring pengaman social bidang kesehatan (JPS-BK) adalah program pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin (gakin) dengan mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis.

TUJUAN UMUM

Terlayaninya penderita miskin (kurang mampu) yang berobat ke RS sesuai indikasi media dan kemampuan pelayanan serta dapat dipertahankan mutu pelayanan RS.

TUJUAN KHUSUS

  1. Terlayaninya pasien miskin di RS pemerintah secara gratis
  2. Berjalannya system rujukan didaerah Kab./Kota
  3. Tersedianya pembiayaan pelayanan yang berkesinambungan bagi masyarakat miskin di wilayahnya

SASARAN

Seluruh anggota keluarga yang merasa dari keluarga miskin yang ditetapkan oleh tim desa sesuai dengan sasaran program JPS-BK baik pemegang kartu sehat maupun surat keterangan  tidak mampu, penderita yang dirujuk ataupun dating langsung ke RS dalam keadaan gawat darurat.

PELAKSANAAN KEGIATAN

  1. Jenis pelayanan
    • Pada prinsipnya semua jenis pelayanan disediakan oleh PKM bagi masyarakat umum,diberikan juga untuk Gakin dengan “Bebas biaya”
    • Pelayanan tersebut bersifat menyeluruh,terdiri dari:

Pelayanan peningkatan

Pelayanan pencegahan

Pelayanan pengobatan

Pelayanan pemulihan

Yang diselenggarakan secara rawat jalan atau rawat inap

Bidan didesa disamping melakukan pelayanan kebidanan dasar, juga melaksanakan pelayanan kesehatan dasar sesuai kemampuan dan kewenangan yang didelegasikan oleh kepala PKM antara lain:

Pelayanan pengobatan

Pelayanan keluarga Berencana

Pelayanan imunisasi

PEMBIAYAAN

  1. Dana OPRS JPS-BK bagi RS penyeluruhannya sbb:
    1. RS vertical melalui DIP APBN dengan tolak ukur “Bantuan Penanggulangan Kemiskinan”
    2. RS daerah disalurkan melalui Dana Pembangunan Daerah

Dana JPS-BK tidak boleh digunakan untuk jasa pelayanan
RS dilarang meminta jaminan biaya dari keluarga penderita miskin (Tidak mampu)
Penggunaan dana OPRS JPS-BK di RS dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk pelayanan bagi pasien miskin.

  1. KEGIATAN PROGRAM JPS-BK BAGI RS
    1. Progran JPS-BK di RS berpedoman pada “Petunjuk Teknik Pelayanan Kartu Sehat diRS”(Kep-Dirjen Pelayanan Medik No.HK.00.06.3.6.03164) dengan memperhatikan:
      1. Pelayanan diutamakan pada kasus emergency kebidanan,kesehatan anak termasuk KEP dan Kegawat daruratan lainnya.
      2. Tibdakan medic diutamakan bagi pelayanan gawat daruratan yang bersifat penyelamatan jiwa.
      3. Rujukan diutamakan  bagi gawat daruratan yang bersifat penyelamatan jiwa.
  2. Pelayanan kesehatan yang diberikan harus berpedoman pada standar pelayanan RS,pelayanan medis dan standar obat/terapi yang berlaku dengan memperhatikan efektifitas dan efisiensi.
  3. Jenis pelayanan yang diberikan disesuaikan dengan indikasi medis yang diputuskan oleh para pelaksana pelayanan,berdasarkan kemapuan RS.
  4. Jenis pelayanan yang diberikan berupa:
    1. Layanan gawat darurat
    2. Layanan rawat jalan
    3. Layanan rawat inap
    4. Layanan tindakan medic
    5. Layanan bedah
    6. Layanan penunjang medic
    7. Layanan rujukan
  5. Obat-obatan yang digunakan/standar obat generic dan mengacu kepada standar obat/terapi.
  6. Lama perawatan-Standar terapi RS.
  7. Untuk pelayanan rawat inap diberikan fasilitas kelas III
  8. Direktur RS dalam pelaksanaan kegiatan koordinasi dengan lepala DinKes Kab./Kota/Prop.dan tim koordinasi.

 

PROSEDUR PELAYANAN

  1. Untuk mendapatkan pelayanan di RS,pemegang KS dan SKTM harus membawa surat rujukan,kecuali dalam keadaan gawat darurat.
  2. Dalam surat rujukan dicantumkan indikasi rujuk jenis pemeriksaan,pengobatan dan tindakan yang telah dilaksanakan.
  3. Penderita yang telah selesai dirawat dikembalikan ke Puskesmas guna pengobatan selanjutnya.
  4. Rujukan antar wilayah diatur di tingkat propinsi.

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

JPS-BK (jaring pengaman social bidang kesehatan) dilaksanakan dengan tujuan membantu keluarga miskin (gakin) di bidang kesehatan akibat dampak daripada krisis moniter.

Atau dengan kata lain sasaran daripada JPS_BK adalah seluruh anggota keluarga yang merasa dari keluarga miskin yang ditetapkan oleh tim desa sesuai dengan sasaran program JPS-BK baik pemegang kartu sehat maupun surat keterangan  tidak mampu, penderita yang dirujuk ataupun dating langsung ke RS dalam keadaan gawat darurat.

Danger without qq

Posted: 15/08/2011 in kikuk kikuk

mhel, nila, ambar, wulan, irma

Hari ne DANGER ngumpul dirumah mel tanpa qq,,
judulnya se jenguk mel yang sakit tapi keliatannya dia lebih sehat  dari yang dibayangkan,,,

yang pertama datang ya saya, trus muncul wulan ma irma, terus ambar baru abis itu qq novas datang ma anaknya alun,,

awalnya kita nonton flim thailan,, aduh romantis skali, sampai nangis tp untung gak ketauan ma yang lain,,,

trus akhirnya buat dokumentasi kita foto foto, karna gak ada yang bisa ambilin jadi kita ngambilnya ganti gantian masing masing 2 kali foto pertama ini dari atas kiri mel dia milih duduk diatas supaya bisa keliatan tinggi dampingan sama saya yang terpaksa harus diblakang karna dah gak ada tempat didepan trus dari kiri bawah ada ambar yang pake baju serba hitam, katanya se supaya kelihatan kurusan. wulan yang posenya nyamping supaya gak kelihatan gemuk + tembem sebelahnya lagi irma yang posenya se biasa aja diakan skarang dah langsing jadi dari depan ataupun samping tetap aja kelihatan kurusan, qq novas gak muncul soalnya dia yang ambil foto,, ne kita foto di teras rumahnya mel,,

qq, irma, wulan, mhel, ambar

 

irma wulan nila mhel

TGL 12 08 2011, hari yang gila,,
hari ne satkar buat buber dirumah akbar, karna hari ne piket sore jadi agak sedikit telat perginya,,

nyampe dirumah akbar anak2 dah pada rame, muka pertama yang muncul itu
‘isz’ si judes dari penaraga,
trus ‘irma’ jujur se sy dah bosan liat mukanya,
‘mega n nule’ lama gak ketemu kayak ibu2 arisan ketemu langsung cipika cipiki trus nanya gosip,
gak lama bis itu muncul lg ‘mimin’ dengan kresek warna merahnya seperti dugaan pertama dia selalu setia jadi seksi konsumsi
di temani ‘linda’ alias ‘ny. ade’ masih dengan badan 2 in 1.a!!!
ngintip lg di dalam ternyata da ‘abang ais’ ‘baba cobe’ ma ‘erik sahe’ ternyata mereka lagi nonton flim korea,, gak nyangka muka boleh sangar tapi hati ttp sitti nurbaya,,
masih da dua orang lagi yang muncul ‘yayu’ yang 5 in 1 datang bareng ‘yayat’ yang 1/2 in 1 masih setia dengan gaya jilbab yang compang camping baju hitam yang dilipat ke atas n celana yang multi kantong gak lupa juga sendal gunung.a oh ia tas gunung.a juga!!!

setelah nunggu beberapa menit akhirnya adzan juga, alhamdulillah,,
anak anak pada sholat magrib dulu baru makan, imam.a abang ais,,
gak salah lagi solatnya ancur banged gak da yang khusu (klo gak slah tulis) ne gara2 irma yang ketawa terus ma satkar akhirnya yang lain juga kepengaruh, untung saya bukan salah satu dari mereka, saya milih sholat belakangan karna dah duga ujung2nya bakalan kayak gitu,,,
yang sholat belakangan sy, yayu, ma yayat,,, imam.a sendiri2,,

abis sholat semuanya pada cerita waktu masa2 SMA dari cerita memalukan sampai mengharukan,karna semua dah laper akhirnya lanjud makan lg,,
gak ada yang serius makan karna semuanya pada ngelucu yang jorok2, tai lah, kentut, semuanya ada,,
2 org jadi korban keselek satkar ma linda,,
makan dah selesai sekarang istrahat dulu, ternyata gak lama setelah istrahat muncul ‘edi’ cinta pertamanya wulan yang gak kesampaian, edi mampir trus ditawari sholat tarawih bareng ternyata dia mau trus dia juga jadi imam.a!!!
aduh keren banged dah pintar, alim, berwibawa, gak banyak omong, cocok banged buat wulan yang sok alim,,,

selesai sholat tarawih kita mulai gosip lagi, karna ketawanya yerlalu besar akhirnya ditegus juga sama tetangga sebelah, ngerasa gak enak juga se, akhirnya kita semua mutusin buad lanjud nongkrong di ama hami, disana kan bisa ketawa sepuasnya,,,,

nyampe diaama hami satkar ma abang ais pergi beli kartu, sisanya main siapa berani jujur,,
awalnya yang dapat irma, pertanyaannya seputar hubungannya ma erik,,
ysng ke dua ririn, di tanya masih punya perasaan gak sama baba cobe, lucunya yang ditanya ririn yang pucat pasi malah baba cobe,,,
akhirnya sekarang giliran saya yg dapat pertanyaan, yang nanya itu erik,,
pertanyaan yang buat sy diam seribu bahasa, pertanyaan yang sy lg usahain lupain jawabanya,,
anjrit dia ngingatin lg,,, dan sekarang sy harus ngejawab, ya udah akhirnya sy jawab jujur, ,

dari pada kena pertanyaan lg sy alihin mereka buat main kartu,,
awalnya main setan trus akhirnya main jendral lg,,,
ternyata julukan ratu judi masih berpihak ma saya, hahahah,,,
menang terus,,,

karna dah hampir jam 11 malam akhirnya kita mutusin buat pulang,,,,

Bolang pulang kampung,,,

Posted: 22/07/2011 in Uncategorized
pulakm

bolang dari bima, hoorrreeee

hhoorreee,,,

hoorreee,,,

akhirnya pulang kampung juga, jam 11 brangkat ke pelabuhan, ditengah jalan ternya ta baru sadar klo tiket kelupaan di kos, akhirnya balik lagi ke kos,,

pelabuhan rame pengap sumpek panas lengkap sudah penderitaanku,,, karna terlalu rame akhirnya kita mutusin naik blakangan,,

karna banyak bawaan rebot sendiri jadinya ngangkat barang, untung ada asisten ku alias sepupu gondrong alias yesus, dia ngangkatin 1 tas,,,
pas lg naik tangga aku ndak kuat ngangkat koper, dengan salh satu 37 jurus wnita cantik akhirnya ad yg bantuin ngangkat, hahahaah..

makasih ya dah ngerepotin,,,

karna ica ma maani gak mau sewa kamar akhirnya kita tidur diluar, panas, angin, yang pastinya gak nyaman tapi seru loh,,,

soalnya ku ketemu ma arul soulmate gokil waktu SMA, dia datang ma rombongan gokilnya yang lain alhasil lorongnya rame banget sepanjang jalan ketawa terrus kerjanya… tp ada yg aneh, da 1 cowok yang lumayan cakep,, mulai genit lagi,,, hahahaha

alun cerita klo temanya yang itu sok play boy, ya udah aku kerjain aja, aku ngeluarin lagi 1 dari 37 jurus wanita cantik,,,
aku natap dia dalam2 selama kurang lebih 5 menit, alhasil seharian dia natap aku terus,,, hahahaah,,

jurus murahan gitu masih ampuh juga ternyata.. dia tebar pesona terus serasa orang paling cakep sedunia,,,,,,

 

bersambung..

ceritanya lanjutin besok  soalnya uang.a gak cukup buat bayar warnet hahaahahah

Escherichia coli

Posted: 25/06/2011 in Bakteriologi

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

      Mahluk Hidup sangat membutuhkan air dalam hidupnya, baik untuk keperluan minum, memasak mencuci, dan sebagainya. Menurut perhitungan kebutuhan, dalam satu hari, seorang dewasa membutuhkan sekitar 1,6 liter air untuk dikonsumsi, sehingga penyediaan air minum yang aman mutlak diupayakan. Bahaya laten yang selalu mengancam kita lewat media air bersih dan air minum ini adalah bakteri E.coli.Bakteri yang sangat identik dengan pencemaran air.

      Mikroorganisme patogen yang terkandung dalam air dapat menularkan beragam penyakit bila masuk tubuh manusia, dalam 1 gram tinja dapat mengandung 1 milyar partikel virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa minggu pada suhu dibawah 10 derajat Celcius. Terdapat 4 mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja yaitu : virus, Protozoa, cacing dan bakteri yang umumny diwakili oleh jenis Escherichia coli  (“http://en.wikipedia.org/wiki.Escherichia coli)

      Enterobacteriaceae adalah kelompok bakteri gram negative berbentuk batang yang habitatnya alamiahnya berada pada system usus manusia dan binatang. Spesies enterobacteriaceae mempunyai banyak jenis salah satu diantaranya adalah Escherichia coli (Anonim. 1998)

      Escherichia coli, ditemukan oleh Theodor Escherichia coli 1885. Hidup pada tinja dan menyebabkan masalah kesehatan pada manusia seperti diare, muntaber serta masalah pencernaan lainnya. Bakteri yang banyak digunakan sebagai indicator sanitasi adalah Escherichia coli karna bakteri ini adalah bakteri yang terdapat dan hidup pada usus manusia.

      Echerichia coli merupakan flora normal didalam usus manusia dan akan menimbulkan penyakit bila masuk kedalam organ atau jaringan lain. Dapat menimbulkan pneumonia, endocarditis,infeksi pada luka, abses pada berbagai organ, meningitis dan dapat menyebabkan penyakit diare (Entjang I, 2003)

Rumusan Masalah

  1. Menjelaskan tentang definisi, Klasifikasi ilmiah, Morfologi, Fisiologi dan antigen pada Echerichia coli
  2. Mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh Echerichia coli
  3. Mengetahui tentang cara penularan, cara pengobatan dan pencegahan Echerichia coli
  4. Menjelaskan tentang epidemiolgi dan penyebaran Echerichia coli
  5. Menjelaskan bahaya yang ditimbulkan oleh Echerichia coli dan pengaruhnya terhadap tubuh manusia dan hewan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Escherichia coli

Bakteri yang paling banyak digunakan sebagai indikator sanitasi adalah E. coli , karena bakteri ini adalah bakteri komensal pada usus manusia, umumnya bukan patogen penyebab penyakit sehingga pengujiannya tidak membahayakan dan relatif tahan hidup di air sehingga dapat dianalisis keberadaannya di dalam air yang notabene bukan merupakan medium yang ideal untuk pertumbuhan bakteri. Keberadaan E. coli dalam air atau makanan juga dianggap memiliki korelasi tinggi dengan ditemukannya patogen pada pangan.

(http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_fdsf_bctrindktr.php)

E. coli adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora yang merupakan flora normal di usus. Meskipun demikian, beberapa jenis E. coli dapat bersifat patogen, yaitu serotipe-serotipe yang masuk dalam golongan E. coli Enteropatogenik, E.coli Enteroinvasif, E. coli Enterotoksigenik dan E.coli Enterohemoragik . Jadi adanya E. coli dalam air minum menunjukkan bahwa air minum tersebut pernah terkontaminasi kotoran manusia dan mungkin dapat mengandung patogen usus. Oleh karenanya standar air minum mensyaratkan E. coli harus absen dalam 100 ml. (http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_fdsf_bctrindktr.php)

Klasifikasi Ilmiah Escherichia coli

Domain    : Bacteria

Phylum     : Proteobacteria

Order       : Enterobacteriales

Family      : Enterobacteriaceae

Genus       : Eschericha

Spesies     : Escherichia coli

(http://id.wikipedia.org/wiki/escherichiacoli/bakteri)

Morfologi Escherichia coli

      Escherichia coli umumnya merupakan bakteri pathogen yang banyak ditemukan pada saluran pencernaan manusia sebagai flora normal. Morfologi bakteri ini adalah kuman berbentuk batang pendek (coccobasil), gram negatif, ukuran 0,4 – 0,7 µm x 1,4 µm, sebagian besar gerak positif dan beberapa strain mempunyai kapsul (Karsinah, H.M. Lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti, 1994).

Fisiologi Escherichia coli

      Escherichia coli adalah kuman oportunitis yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Sifatnya unik karena dapat menyebabkan infeksi primer pada usus misalnya diare pada anak dan travelersdiarhea.

       Selama bertahun – tahun Escherichia coli dicurigai sebagai salah satu penyebab diare yang timbul pada manusia khususnya pada anak – anak yang mengakibatkan kematian.

Ada dua macam enterotoksin yang diisolasi dari Eschrichia coli yaitu:

  • Termolabil Toksin (LT)

Seperti toksin kolera, toksin LT bekerja merangsang enzim adenil siklase yang terdapat didalam sel epitel mukosa usus halus menyebabkan peningkatan aktivitas enzim tersebut dan terjadinya peningkatan permeabilitas sel epitel usus, sehingga terjadi akumulasi cairan dalam usus dan berakhir dengan diare. Toksin LT seperti juga toksin kolera bersifat cytopathis terhadap sel tumor adrenal dan sel ovarium Chinese hamster serta meningkatkan permeabilitas kapiler pada test rabit skin. Kekuatan toksin LT adalah 100x lebih rendah dbandingkan toksin kolera dalam menimbulkan diare.

  • Termostabil Toksin (ST)

Toksin ST adalah asam amino dengan berat molekul 1970 dalton, mempunyai satu atau lebih ikatan disulfda yang penting untuk mengatur stabilitas pH 7 dan suhu 37oC.

Produksi

Produksi kedua jenis toksin ini diatur oleh plasmid yang mampu pindah dari satu sel kuman ke sel kuman lainnya yaitu 1 plasmin lainnya mengatur pembentukan toksin ST saja.

Sifat- Sifat Biologis

Escherichia coli tidak dapat memproduksi H2S, tetapi dapat membentuk gas dari glukosa, menghasilkan tes positif terhadap indol, dan memfermentasikan laktosa. Bakteri ini dapat tumbuh baik pada suhu antara 80 C- 460 C, dengan suhu optimum dibawah temperature 370 C. Bakteri ini berada dibawah temperature minimum atau sedikit diatas temperature maksimum tidak segera mati, melainkan berada dalam keadaan dormancy, disamping itu Escherichia coli dapat tumbuh pada ph optimum berkisar 7,2-7,6 ( Dwidjoseputro D. 1998; Gani A. 2003)

Struktur Antigen

Escherichia coli memiliki antigen O tersusun dari komplek polisakarida-phospolipid dengan fraksi protein yang tahan terhadap pemanasan, sehingga antigen O dikenal sebagai antigen permukaan yang tahan panas (heat-stable). Antigen K merupakan antigen kapsul atau amplop. Antigen K terletak di atas antigen O dan mencegah antigen O kontak dengan antibodi O. tersusun dari lipopolisakarida Antigen fimbria terletak pada fimbria (pili), yang merupakan penonjolan pada dinding sel dan tersusun dari protein. Antigen H merupakan antigen flagela, protein dan tidak tahan panas (Gross,1997).

Antigen yang digunakan untuk menentukan serotipe adalah sebagai berikut:

    • Somatik atau antigen O. Dituliskan menggunakan numeral Arabik; sebagai contoh, O33 (Carter, 2004). Antigen O merupakan bagian terluar dinding sel lipopolisakarida dan terdiri unit berulang lipopollisakarida. Beberapa polisakarida spesifik O mengandung gula unik. Antigen O tahan terhadap panas dan alcohol dan biasanya dideteksi dengan cara aglutinasi bakteri. Antibodi terhadap antigen O adalah IgM. Sedangkan tiap jenis enterobacteriaceae digabungkan dengan kelompok khusus O sehingga tiap organisme tunggal dapat membawa beberapa antigen O yang sama dengan E. coli. E. coli dapat bereaksi silang dengan beberapa spesies providencia, klebsiella, dan salmonella. Biasanya antigen O berhubungan dengan penyakit khusus pada manusia, misalnya tipe spesifik O dari E. coli ditemukan pada diare dan infeksi saluran kemih (Brooks, 1995).
    • Antigen K (permukaan atau amplop). Ada lebih dari 80 Antogen K yang berbeda-beda. Dituliskan menggunakan numeral Arabik; contoh, K4 (Carter, 2004). Antigen K merupakan bagian luar dari antigen O pada beberapa, tetapi tidak pada semua enterobacteriaceae. Beberapa antigen K adalah polisakarida, termasuk antigen K dari E. coli dan yang lainnya protein. Antigen K dapat berpengaruh pada reaksi aglutinasi dengan antisera O dan mereka dapat dihubungkan dengan virulensi misalnya strain E. coli memproduksi K1 yang merupakan penyebab utama pada meningitis neonatal, dan antigen K dari E. coli menyebabkan perlekatan bakteri pada sel epithelial yang memungkinkan invasi ke sistem gastrointestinal atau saluran kemih) (Brooks, 1995).
    • Antigen H atau flagella. Ditulis dengan H diikuti dengan numeral Arabik; contoh, H2. Apabila tidak ada flagella , dituliskan dengan NM (nonmotil) (Carter, 2004). Antigen H terletak pada flagella dan denaturasi atau dihilangkan oleh panas atau alkohol. Mereka dapat diawetkan dengan pemberian formalin pada varian bakteri yang motil. Antigen H mengadakan aglutinasi dengan antibodi H , biasanya Ig G. Penentu dalam antigen H merupakan fungsi dari rangkaian asam amino pada protein flagella (flagellin) (Brooks, 1995).

Pemeriksaan laboratorium

1. Media Pemupuk

Spesimen ditanam pada media Escherichia coli broth, dimana media tersebut meningkatkan Escherichia coli. Setelah Diinkubasi 18 – 24 jam, ditanam pada media differensial dan selektif

          2.  Media Differential dan Selektif

(Soemarno,2000)

Blood Agar Plate : Koloni sedang, abu – abu, smooth, keeping, haemolytis atau anhaemolytis

Mac Conkey         :   Koloni sedang, merah bata atau merah tua, metallic, smooth, keeping atau sedikit cembung

EMB Agar            :   Koloni sedang, smooth, keeping kehijau – hijauan, metalic

Endo Agar            :   Koloni besar, bulat, smooth, mera – merah tua, metalic

d

c

 

Keterangan :  (a) Koloni e-coli pada media BAP (b) Koloni pada media EMBA (c) Koloni pada media Mac Conkey (d) Koloni pada media Endo

Biokimia

Media yang digunakan untuk reaksi biokimia adalah

  • Triple Sugar Iron Agar (TSIA)

Media ini terdiri dari 0,1% glukosa, 1 % sukrosa, 1 % laktosa. Ferri sulfat untuk mendeteksi produksi H2S, protein dan indicator phenol red. Salmonella bersifat alkali acid, alkali terbentuk karena adanya proses oksidasi dekarboksilasi protein membentuk amina yang bersifat alkali dengan adanya phenol red maka terbentuk warna merah, Escherichia coli memfermentasi glukosa, sukrosa dan laktosa yang bersifat asam sehingga terbentuk warna kuning pada dasar dan lereng dan menghasilkan gas. (Gani A.2003)

  • Sulfur Indol Motility (SIM)

Media SIM adalah perbenihan semi solid yang dapat digunakan untuk mengetahui pembentukan H2S, indol dan motility dari bakteri. Escherichia coli membentuk indol dan motility positif. (Gani A.2003)

  • Citrate

Bakteri yang memanfaatkan sitrat sebagai sumber karbon akan menghasilkan natrium karbonat yang bersifat alkali, dengan adanya indicator brom thymol blur menyebabkan terjadinya warna biru. Pada Escherichia coli tidak memanfaatkan sitrat, sehingga pada penanaman media sitrat hasilnya negatif. (Gani A.2003)

  • Urea

Bakteri tertentu menghidrolisis urea dan membentuk ammonia dengan terbentuknya warna merah karena adanya indicator phenol red, Escherichia coli pada media urea memberikan hasil negatif karena Escherichia coli tidak menghidrolisis urea dan tidak membentuk ammonia. (Gani A.2003)

  • Metil Red

Media ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari beberapa bakteri yang memproduksi asam sebagai hasil fermentasi dari glukosa dalam media ini, yang dapat ditunjukkan dengan penambahan indicator metal red. Escherichia coli memproduksi asam kuat sehingga pada penambahan larutan metal red akan terbentuk warna merah. (Gani A.2003)

  • Voges proskauer

Bakteri tertentu dapat memproduksi acetyl methyl carbinol dari fermentasi glukosa yang data diketahui dengan penambahan larutan voges proskauer, Escherichia coli tidak memproduksi acetyl metal carbinol sehingga penanaman pada media ini memberikan hasil negatif. (Gani A.2003)

  • Fermentasi karbohidrat

Media ini berfungsi untuk melihat kemampuan bakteri memfermentasikan jenis karbohidrat, jika terjadi fermentasi maka terlihat warna kuning karena perubahan pH menjadi asam. Escherichia coli memfermantsi glukosa menjadi asam dan gas, memfermentasi laktosa, sukrosa, maltosa dan mannitol dengan atau tanpa gas. Tetapi ada beberapa spesies Escherichia coli  tidak memfermantasi laktosa dan sukrosa. (Gani A.2003)

BAB III

PEMBAHASAN

Etiologi

Escherichia coli ialah bakteri yang berbentuk batang pendek (Basil) tergolong dalam Gram negatif dan hidup dalam saluran pencernaan atau usus baik pada hewan dan  manusia. Escherichia coli yang mencemari bahan makanan berasal dari tinja manusia, sehingga keberadaannya pada bahan akanan atau ikan segar menunjukkan adanya ancaman kesehatan pada konsumen (manusia), sebab dapat diartikan bahwa bahan makanan telah tercemar oleh  tinja manusia. Oleh karena itu maka, Escherichia coli dipakai sebagai indikator cemaran yang berbahaya bagi manusia dan hewan.

Ancaman yang dapat  membahayakan kesehatan konsumen, sebab beberapa strain Escherichia coli bersifat patogen yang dapat menyerang manusia maupun hewan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan bakteri Escherichia coli memproduksi toxin yang dapat menyebabkan timbulnya gastro enteritis pada manusia dan hewan yang ditandai dengan gejala diare, demam kadang disertai muntah bahkan kematian

Binatang ternak terutama sapi, domba, dan kambing, merupakan reservoar bakteri EHEC. Kotoran hewan yang mengandung bakteri ini dapat mengontaminasi daging atau susu, yang kemudian diolah kurang sempurna.

Sayuran dari kebun-kebun yang diairi air sungai yang terkontaminasi kotoran hewan, juga berpeluang memicu diare. Karena itu, mereka yang gemar memakan sayuran segar atau lalap-lalapan harus mencuci bersih sayuran itu sebelum dimakan. Sedang penggemar produk hewan dianjurkan memanaskan bahan makanan itu secara merata pada suhu yang dianjurkan. Para peternak sapi, domba, atau kambing juga harus selalu mencuci tangan setelah bekerja di kandang ternak.

Penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli

Selain diare, penyakit – penyakit lain yang disebabkan oleh Escherichia coli adalah infeksi saluran kemih, pneumonia, meningitis pada bayi baru lahir, dan infeksi luka terutama luka didalam abdomen (Jawetz, Melnick dan Adelberg’s, 2005).

Sumber Penularan

Bakteri berkembang biak bila ada tempat yang memungkinkan untuk melakukan perkembang biakan. Tempat kolonisasi bakteri di dalam hospes menentukan apakah dapat menular atau tidak, jika dapat, secara langsung atau tidak langsung. Jadi konsep dapat menularnya sebuah infeksi tergantung pada tempat hidup mikroba dari sumber pembiakan sampai tiba dalam hospes barunya. Untuk berpindah tempat mikroba membutuhkan reservoir. Reservoir terbagi atas 2 yaitu

  1. Reservoir Hidup
  2. Reservoir Mati

Jalan masuk utama infeksi mikroorganisme ke tubuh manusia, melalui :

  1. Saluran napas

Selama microorganism berada disaluran napas, maka dapat ditularkan melalui sputum,liur dan cairan hidung, terutama kalau bersin atau batu.

  1. Saluran Cerna

Tempat ini merupakan pintu masuk maupun keluar bagi infeksi yang terjadi melalui ; secara langsung dari manusia ke manusia, melalui  tangan yang kototor: secara tidak langsung melalui kontak tangan dengan benda terkontaminasi feaces secara tidak langsung melalui makanan dan minuman, dapat juga melalui tanah yang terkontaminasi feaces dan dengan perantara hewan atau tumbuh – tumbuhan.

  1. Kulit dan mukosa

Gesekan yang sering baik disengaja maupun tidak disengaja, dapat menjadikan tempat masuknya bakteri, meskipun tampak utuh, sering terdapat retak maupun luka kecil yang dapat dijadikan tempat menetapnya mikroorganisme pathogen yang berkembang dan menimbulkan reaksi jaringan atau cedera. Ada mikroba yang menetap di kulit atau mukosa, namun dapat menyebar ke tempat lain.

  1. Melalui Parental

Rule masuknya mikroorganisme biasanya ditular melalui perantara hidup dalam hal ini arthropoda ( Tambayong J, 2000)

Patogenesis

Escherichia coli adalah spesies yang paling penting dari genus Escherichia dan merupakan flora normal yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran kencing, luka, bakterimia, septisemia dan meningitis serta infeksi gastrointestinal (Gaani A, 2003).

Sehubungan dengan infeksi pada usus dikenal lima jenis  Escherichia coli, yaitu:

  1. Enteropathogenik Escherichia coli (EPEC)

EPEC menyebabkan diare pada bayi atau anak – anak kurang dari 1 tahun dan jarang pada orang dewasa dengan gejala berupa demam tidak tinggi, muntah, malaise dan diare.

  1. Enterotoxigenik Escherichia coli (ETEC)

ETEC menyebabkan  diare pada anak – anak dan dewasa di daerah tropis dan subtropics pada Negara yang sedang berkembang. Infeksi ETEC ditandai dengan gejala demam rendah dan tinja encer.

  1. Enteroinvasive Escherichia coli (EIEC)

EIEC menyebabkan diare mirip dengan yang disebabkan oleh shigella, baik pada anak – anak maupun orang dewasa. Tinja agak encer bahkan seperti air, mengandung nanah, lender dan darah dengan gejala panas dan malaise.

  1. Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC)

EHEC dikenal sebagai penyebab diare hemorhagik dan colitis serta hemolytic uremic syndrome (HUS) yang ditandai dengan jumlah trombosit berkurang, anemia hemolitik dan kegagalan ginjal. Tinja encer berair, mengandung darah dan abdomen terasa sakit, kram serta demam rendah atau tanpa demam.

  1. Enterodherant Escherichia coli (EAEC)

EAEC menyebabkan diare dengfan cara menempel kuat pada permukaan mukosa usus dengan gejala tinja encer berair, muntah, dehidrasi, dan biasanya sakit pada abdomen.

Epidemiologi

Dalam air yang kotor, bakteri golonga coliform terdapat dalam kepekaan yang secara kasar menyamai tingkat pencemaran tinja. Dengan kata lain bilamana anggota bakteri golongan coliform ditemukan dalam air, kemungkinana bakteri penyebab penyakit juga terdapat didalam iar tersebut, misalnya salmonella dan vibrio cholera (Jawetz, Melnick dan Adelberg’s, 2005).

Diagnosa Laboratorium

Diagnosa laboratorium penyakit diare yang disebabkan oleh Escherichia coli masih sulit dilakukan secara rutin, karena pemeriksaan secara tradisional dan serologi seringkali tidak mampu mendeteksi kuman penyebabnya. Deteksi sebagian besar strain Escherichia coli pathogen memerlukan metode khusus untuk mengidentifikasi toksin yang dihasilkan. Sampai saat ini metode yang ada masih memerlukan tes dengan binatang percobaan dan kultur jaringan yang cukup mahal dan kurang praktis. Beberapa metode baru berdasarkan tes imunologi dan teknik hibridasi DNA sudah dikembangkan, tetapi belum beredar dipasaran luas, misanya: tes Elisa (anzyme-linked immunosorbent assay), particle agglutination methods Co-agglutination dengan protein A Staphylococcus aureus yang telah berikatan dengan antibody terhadap enterotoksin Escherichia coli, hibridasi DNA –DNA pada koloni kuman atau langsung pada specimen tinja (Karsinah, H.M. lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti, 1994).

Pengobatan

Kuman Escherichia coli yang diisolasi dari infeksi di dalam masyarakat biasanya sensitive terhadap obat – obat antimikroba yang digunakan untuk organisme gram negatif, meskipun terdapat juga strain – strain resisten, terutama pada pasien dengan riwayat pengobatan antibiotika sebelumnya. Pada pasien yang terkena diare, perlu dijaga keseimbangan cairan dan elektrolitnya (Karsinah, H.M. lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti, 1994).

Pencegahan

Untuk menghindari supaya tidak tertular Escherichia coli, berikut cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah :

  1. Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, sampai umur 4 – 6 bulan.
    Pemberian ASI mempunyai banyak keuntungan bagi bayi atau ibunya. Bayi yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih ringan episode diarenya dan lebih rendah risiko kematiannya jika dibanding bayi yang tidak mendapat ASI. Dalam 6 bulan pertama, kehidupan risiko mendapat diare yang membutuhkan perawatan dirumah sakit dapat mencapai 30 kali lebih besar pada bayi yang tidak disusui daripada bayi yang mendapat ASI penuh. Hal ini disebabkan karena ASI tidak membutuhkan botol, dot, dan air, yang mudah terkontaminasi dengan bakteri yang mungkin menyebabkan diare. ASI juga mengandung antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi terutama diare, yang tidak terdapat pada susu sapi atau formula. Saat usia bayi mencapai 4 – 6 bulan, bayi harus menerima buah-buahan dan makanan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat, tetapi ASI harus tetap terus diberikan paling tidak sampai umur 2 tahun.
  2. Hindarkan penggunaan susu botol.

Seringkali para ibu membuat susu yang tidak langsung habis sekali minum, sehingga memungkinkan tumbuhnya bakteri. Juga dot yang jatuh, langsung diberikan bayi, tanpa dicuci. Botol juga harus dicuci dan direbus untuk mencegah pertumbuhan kuman.

  1. Penyimpanan dan penyiapan makanan pendamping ASI dengan baik, untuk mengurangi paparan dan perkembangan bakteri.
  2. Penggunaan air bersih untuk minum.

Pasokan air yang cukup, bisa membantu membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan, mencuci peralatan makan, membersihkan WC dan kamar mandi.

  1. Mencuci tangan (sesudah buang air besar dan membuang tinja bayi, sebelum menyiapkan makanan atau makan).
  2. Membuang tinja, termasuk tinja bayi secara benar.
    Tinja merupakan sumber infeksi bagi orang lain. Keadaan ini terjadi baik pada yang diare maupun yang terinfeksi tanpa gejala. Oleh karena itu pembuangan tinja anak merupakan aspek penting pencegahan diare.

Dengarkan,,

Posted: 23/06/2011 in Kata Hati

matahariku

Jika aku sudah pantas bagi pasangan yang baik,
pertemukanlah kami.

Jika aku masih belum baik,
bantulah aku untuk menyegerakan kebaikan diriku.

Jika belum ada yang sesuai bagiku,
ciptakanlah satu jiwa yang baik, jujur, penyayang,
yang akan kubahagiakan dengan cintaku.

Aamiin